Breaking News:

Jendela

Kematian Adalah Nasihat Terbaik

Bagi kita yang hidup, kematian mengingatkan kita untuk mengisi sisa hidup dengan amal kebaikan, bukan kejahatan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - KETIKA kematian makin banyak tiap hari di masa pandemi ini, saya tiba-tiba teringat dengan Mister Muradin. Usianya sekitar 50-an. Wajahnya mirip India. Ia seorang ahli perpajakan yang berkantor di Amsterdam. Saya menemuinya setelah membuat janji via telepon. Saya mengendarai sepeda, menuju alamat kantornya. Setelah tengak-tengok, akhirnya ketemu juga. Dia menyambut saya dengan ramah. Saya berikan semua dokumen yang diperlukan. Ia memeriksanya dengan cermat, lalu membuat catatan-catatan. “Nah, ini sudah beres. Saya akan kirimkan ke kantor pajak. Nanti mereka akan tanggapi. Insya Allah, isteri Anda dapat tunjangan,” katanya sambil tersenyum.

Setelah urusan selesai, dia mengajak ngobrol. Dia bilang, isterinya baru saja meninggal. Dia sangat sedih dan merasa kehilangan. Saat itu yang menemaninya adalah putri tunggalnya. Dari dokumen pajak saya, dia mengetahui bahwa saya seorang mahasiswa PhD dalam kajian Islam. Karena dia beragama Islam, dia ingin tahu, bagaimana pandangan Islam mengenai kehidupan sesudah mati? Bagaimanakah hubungan ruh dan tubuh? Bagaimana kehidupan di alam kubur? Apakah kita masih bisa berhubungan dengan orang-orang yang telah wafat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin juga berputar di kepala kita, terutama ketika kita kehilangan orang-orang yang dicintai. Meskipun kematian adalah peristiwa alami yang pasti dirasakan oleh tiap manusia, ketika kematian menjemput orang yang kita sayangi, ada perasaan pedih yang tak terperikan. Kematian tidak saja menunjukkan bahwa kehidupan itu sangat berharga, tetapi juga mengingatkan bahwa nilai seseorang bagi kita akan lebih terasa ketika orang itu telah tiada. Karena itu, kita ingin tahu, apakah kita masih bisa terhubung dengan saudara kita yang telah wafat? Apakah setelah wafat mereka memang masih hidup di alam yang lain?

Para filosof Muslim berpendapat, manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa (nafs) dan ruh. Tubuh dan jiwa akan mati saat ruh berpisah dengan keduanya. Adapun ruh, dia tidak mati, karena dialah diri kita yang hakiki, sementara jiwa dan tubuh hanyalah ‘kendaraannya’. Ruh adalah misteri yang sangat sulit dipahami. Jika pun bisa digambarkan, ruh adalah substansi immaterial yang diciptakan Allah, yang berdiri sendiri, berasal dari alam yang sangat dekat dengan-Nya, dan mempunyai kemampuan mengetahui. Ketika kita mengatakan ‘tanganku’, ‘mataku’, ‘telingaku’ dan seterusnya, rujukan ke ‘aku’ itu tiada lain adalah kepada diri kita yang sejati itu, yakni ruh kita.

Keyakinan akan adanya ruh tersebut merupakan salah satu dasar kepercayaan terhadap kehidupan sesudah mati. Karena itu, kaum pengingkar akhirat berpendapat, setelah kematian, kita akan lenyap bersama tanah. Tak ada lagi yang tersisa dari diri kita. Kaum ateis modern kemudian mengikuti pandangan ini dengan menekankan bahwa ruh itu tidak ada karena yang kita anggap jiwa, yang di dalamnya ada perasaan, pikiran dan kepercayaan, hanyalah proses-proses kimiawi otak dan tubuh manusia. Artinya, keseluruhan diri kita adalah materi. Kita ini hanya seonggok daging, tulang dan darah belaka. Bahagia dan sedih yang kita rasakan, adalah reaksi-reaksi fisik belaka.

Sebaliknya, bagi kaum beriman, karena diri manusia yang sejati itu adalah ruhnya, maka kehidupan manusia itu memiliki dimensi ruhani yang dalam, tidak sedangkal kehidupan duniawi. Di dalamnya terkandung pula kepercayaan kepada yang gaib seperti Tuhan, malaikat, surga, neraka, dosa dan pahala. Ketika seseorang meninggal, jatah hidupnya di dunia ini sudah habis. Dunia adalah ladang ujian bagi manusia, apakah dia menjalani hidup sebagai orang yang baik ataukah buruk, menjadi pendosa ataukah berperilaku mulia. Dunia adalah jembatan menuju kehidupan akhirat. Bahagia-derita di dunia ini lebih merupakan ujian ketimbang ganjaran akan perilaku kita.

Dalam kenyataan, sebagai manusia kita tidak hanya berbuat baik, tetapi juga berbuat dosa. Karena itu, menurut sebagian ulama, kematian adalah salah satu fase penyucian diri dari dosa. Jika kita banyak dosa, maka sebelum wafat, kita mendapat musibah dan/atau kesulitan saat mengalami kematian. Di alam kubur, akan datang dua makhluk kepada kita, satu yang sangat elok rupa dan satu lagi yang sangat jelek rupa. Yang pertama amal baik kita, dan yang kedua amal buruk kita. Jika amal baik kita lebih banyak, dia akan dapat mengusir makhluk jelek itu, sehingga kita bahagia ditemani si baik rupa. Jika sebaliknya, maka kita akan menderita bersama si jelek rupa.

Bagaimana hubungannya dengan yang masih hidup? “Jika anak Adam meninggal dunia, amal kebaikannya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah yang manfaatnya berkesinambungan, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya,” kata Nabi. Hadis ini sangat masyhur di kalangan umat Islam. Karena itu, mereka yang ingat mati akan suka mendermakan hartanya untuk membangun lembaga pendidikan, tempat ibadah dan sarana publik lainnya. Orang juga sangat senang jika dapat membagikan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Semua orangtua berharap anaknya menjadi anak yang baik budinya, yang selalu mendoakannya setelah wafat kelak.

“Cukuplah kematian sebagai nasihat,” kata Nabi. Bagi kita yang hidup, kematian mengingatkan kita untuk mengisi sisa hidup dengan amal kebaikan, bukan kejahatan. Kematian memang menyedihkan bagi orang-orang yang ditinggalkan, namun di dalamnya juga terselip harapan, karena kematian bukanlah akhir melainkan peralihan ke tahap kehidupan berikutnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved