Jendela
Imlek, Macan Air dan Masa Depan
Kita bisa merencanakan masa depan berdasarkan pengetahuan kita yang terbatas, lalu bekerja sebaik mungkin untuk mewujudkannya.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - TAHUN Baru Imlek 2573 Kongzili jatuh pada besok Selasa, 1 Februari 2022. Tahun Imlek biasanya disimbolkan dengan hewan, dan tahun ini simbol hewannya adalah macan-air. Konon, tahun macan menandakan suatu semangat perubahan yang besar dan penuh keberanian. Adapun air melambangkan keberlimpahan kebaikan dan kemakmuran. Ramalan ini tentu terasa indah dan optimistis di tengah krisis Covid-19 yang belum jelas kapan akan benar-benar berakhir.
Namun, namanya juga ramalan, ia bisa benar, bisa pula salah. Istilah lain untuk ramalan ini adalah ‘astrologi’ yakni ilmu perbintangan atau nujum untuk meramal nasib. Dalam budaya Jawa, ada pula Primbon yang berisi ramalan atau perhitungan hari baik, hari nahas, termasuk hari baik untuk mengadakan slametan, perkawinan, memulai usaha dan segala macam kegiatan penting, baik untuk perorangan ataupun masyarakat. Sebagian orang masih memercayainya dan mengikutinya, tetapi sebagian lagi menolaknya. Adapula yang sekadar penasaran ingin tahu, tetapi tidak percaya.
Bagi kalangan ilmiah, yang berpikir rasional dan empiris, yakni berdasarkan nalar akal dan bukti nyata yang dapat diindera, ramalan juga ada. Ilmu atau sains tidak hanya berfungsi menjelaskan kenyataan sebagaimana adanya, tetapi juga dapat membantu meramalkan dan mengendalikan kenyataan itu. Dalam kajian sosial, orang kadang menyebutnya futurologi. Berbeda dengan astrologi yang berdasarkan pada perhitungan yang sudah ada, futurologi meramal masa depan berdasarkan pada analisis atas tali temali sebab akibat dalam kenyataan alam dan sosial secara ilmiah.
Dalam kenyataan, baik ramalan nujum ataupun ilmiah belum tentu terbukti benar. Hal ini karena pengetahuan kita tentang kenyataan, dan kemampuan kita untuk mengendalikan kenyataan itu sangatlah terbatas. Jangankan masa depan yang jauh, rencana kita yang akan dikerjakan tiap hari saja belum tentu bisa berjalan sesuai perkiraan. Terlalu banyak hal yang di luar pengetahuan dan kendali kita, sebagai bagian dari tali-temali sebab akibat dalam hidup ini. Jika saya mau belanja ke pasar naik sepeda motor, apa ada jaminan seratus persen bahwa saya akan sampai dengan selamat?
Karena itu, jika dilihat dari sudut pandang keterbatasan manusia, setiap ramalan adalah ungkapan lain dari harapan dan ketakutan menyongsong masa depan. Kita memang dapat mengira-ngira apa yang akan terjadi di masa depan berdasarkan pengetahuan kita yang terbatas. Namun, karena pengetahuan kita terbatas, kita pun sadar bahwa perkiraan itu bisa meleset. Karena itu, selalu ada rasa khawatir dan was-was, jangan-jangan sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin sebagai pelarian dari rasa khawatir inilah, kita menyukai bahkan mempercayai ramalan yang baik-baik saja.
Dalam hidup keseharian yang diambil dari tradisi Islam, kita mengenal istilah ‘takdir’. Takdir berasal dari kata ‘qaddara’ yang artinya menentukan ukuran, batasan. Alqur’an menyebut kata taqdîr antara lain dalam arti hukum alam. Hukum sebab-akibat adalah batasan yang diciptakan Allah agar alam berjalan dalam keteraturan. Dengan mempelajari keteraturan ini, kita mendapatkan ilmu (sains). Adapun hukum sebab-akibat dalam kehidupan sosial disebut ‘sunnatullah’ dan kadang disebut juga hukum sejarah. Ramalan ilmiah sesungguhnya berdasarkan hukum alam dan hukum sosial ini.
Di tengah hukum alam dan hukum sosial itu, manusia mengambil bagiannya masing-masing. Bagian atau jatah itu dalam bahasa Arab disebut ‘nashîb’ yang dalam bahasa Indonesia menjadi ‘nasib’. Kita tidak bisa hidup di luar alam. Kita juga tidak bisa hidup seorang diri tanpa siapapun (kecuali dalam fiksi Hayy bin Yaqzhan atau Tarzan). Karena itu, hidup dalam tali-temali hukum alam dan hukum sosial itu merupakan keniscayaan. Dalam hidup yang demikian, kita mendapatkan jatah atau bagian tertentu dari segi usia, rezeki, jodoh dan seterusnya. Inilah yang disebut nasib.
Di sisi lain, manusia bukanlah kapas yang diterbangkan angin. Manusia memiliki keterbatasan sekaligus kebebasan. Dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang tersedia dalam tali-temali hukum alam dan sosial, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Inilah yang disebut ikhtiyâr, menentukan pilihan. Di antara berbagai pilihan itu, ada pilihan yang harus dipertanggungjawabkan, yaitu pilihan moral. Ia seringkali dihadapkan pada pilihan antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Pilihan inilah yang akan berakibat pahala atau dosa, surga atau neraka, bahagia atau derita.
Alhasil, masa depan tak pernah bisa kita ketahui sepenuhnya. Kita bisa merencanakan masa depan berdasarkan pengetahuan kita yang terbatas, lalu bekerja sebaik mungkin untuk mewujudkannya. Karena pengetahuan dan kemampuan kita terbatas, maka lebih baik kita memusatkan perhatian pada apa yang kini dan nanti kita kerjakan, bukan hasil yang akan kita dapatkan. Mungkin cara ini akan membantu kita untuk tidak bersedih dengan masa lalu, dan tidak khawatir dengan masa depan. Kita juga tidak akan sombong dengan keberhasilan, dan tidak putus asa dengan kegagalan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrah4man-rektor-universitas-islam-negeri-uin-antasari.jpg)