Jendela

Jangan Menguji Tuhan

Dalam perjalanan ini, kita dihadapkan pada pilihan baik dan buruk, dan juga dipertemukan dengan ujian kesenangan dan kesusahan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINOST.CO.ID - SUFI besar, Jalaluddin Rumi, dalam karyanya Mastnawi, banyak menyisipkan cerita. Salah satunya adalah percakapan Ali bin Abi Thalib dengan seorang Yahudi. Mereka sedang berada di atap rumah. “Apakah kamu yakin, Tuhan selalu melindungimu?” tanya Yahudi itu. “Tentu saja, tak ada keraguan sedikitpun. Aku dalam perlindungan-Nya sejak dikandung ibuku,” jawab Ali. “Kalau begitu, coba kamu terjun dari atap ini. Mari kita lihat apakah Tuhan melindungimu!” tantang Yahudi. “Diam kau. Bukan hakku atau kamu untuk menguji Tuhan. Dialah yang berhak menguji kita, pada saat yang dipilih-Nya. Sesungguhnya Dia secara teratur menguji kita, seberapa besar iman dan pengabdian kita kepada-Nya,” kata Ali.

Bagi kaum beriman, Covid-19 adalah salah satu ujian itu. Sesuai perkiraan para ahli, jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 kini melonjak tajam. Varian baru bernama Omicron memang sangat menular. Jumlah kasus meningkat dua kali lipat dalam 2-3 hari, jauh dibanding varian Delta yang meningkat dua kali lipat dalam 11-14 hari. Di sisi lain, meskipun Omicron ini mudah menular, tetapi sakit yang diakibatkannya relatif ringan. Ia hanya lebih berbahaya bagi orang yang memiliki penyakit bawaan atau berusia tua. Selain itu, maraknya vaksinasi di masyarakat juga dapat mencegah keparahan penyakit atau fatalitas akibat serangan varian baru ini.

Saat ini tampaknya kebijakan banyak negara mulai bergeser dari memprioritaskan kesehatan kepada pertimbangan berbagai dimensi kehidupan yang lebih seimbang. Wajar jika pada awal penyebaran Covid-19 kita lebih mengutamakan kesehatan karena para ilmuwan masih mengkaji virus ini, dan belum menemukan vaksinnya. Karena itu, pencegahan dilakukan terutama melalui protokol kesehatan yang ketat. Namun sekarang para ilmuwan relatif sudah memahami virus ini, termasuk varian-variannya, dan banyak vaksin sudah diproduksi. Karena itu, Covid-19 tidak hanya dlilhat sebagai masalah kesehatan, tetapi juga sebagai masalah ekonomi, sosial, budaya bahkan politik.

Di sisi lain, justru karena krisis Covid-19 ini memiliki banyak dimensi sehingga sangat kompleks, maka semakin terasa pula betapa pengetahuan dan kemampuan manusia itu terbatas. Kita mungkin sudah tahu banyak tentang virus ini dari sudut ilmu kesehatan dan bagaimana solusinya, tetapi kita belum banyak tahu bagaimana mengatasi dampak-dampak negatif yang terjadi di bidang ekonomi, sosial dan budaya masyarakat kita. Bagaimanakah cara agar kesehatan tetap dijaga, tetapi ekonomi tidak merosot? Bagaimana pendidikan anak-anak kita yang terganggu selama hampir dua tahun ini? Bagaimana menyesuaikan pola interaksi sosial yang serba dibatasi agar kita tak kehilangan empati?

Rupanya masalah demi masalah semakin bertambah. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, memang sudah watak kehidupan ini selalu mengandung masalah. Masalah artinya kebuntuan yang harus dibuka, pertanyaan yang harus dijawab, pertengkaran yang harus didamaikan, penyakit yang harus disembuhkan hingga kebodohan dan kemiskinan yang harus disingkirkan. Pernahkah dunia ini tanpa masalah? Tentu saja tidak. Entah Covid-19 ada atau tidak, dunia akan tetap dipenuhi masalah. Karena itu, bagi kaum beriman, dunia memang bukan surga, bukan pula neraka. Dunia adalah ladang amal dan ujian. Bentuk amal adalah baik atau buruk. Hasil ujian adalah gagal atau lulus.

Selain itu, meskipun sudah jutaan orang di dunia yang meninggal akibat virus ini, dan milyaran orang yang terdampak secara ekonomi, sosial dan psikologis, sesungguhnya Tuhan telah banyak memberikan perlindungan kepada kita. Para ilmuwan yang mengkaji virus ini, termasuk yang mengolah vaksin, takkan bisa bekerja tanpa alam dan hukum alam yang diciptakan-Nya. Berbagai pembatasan protokol kesehatan tidak menghalangi kita untuk menghirup oksigen, merasakan hangat sinar matahari, menyantap makanan dan minuman dan berteduh di rumah. Kita juga tetap dapat melaksanakan berbagai ibadah, baik sendirian ataupun berjemaah.

Demikianlah, apapun yang terjadi, dunia akan terus berputar hingga kiamat. Tugas kita adalah menjalani jatah hidup kita. Dalam perjalanan ini, kita dihadapkan pada pilihan baik dan buruk, dan juga dipertemukan dengan ujian kesenangan dan kesusahan. Seperti kata Rumi, jangan coba-coba menguji Tuhan. Misalnya, meremehkan protokol kesehatan karena merasa pasti akan mendapatkan perlindungan-Nya. Yang diuji itu kita, bukan Dia. “Dialah yang menciptakan hidup dan mati, untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik perbuatannya” (QS 67:2). (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved