Jendela
Tamsil Rumi dan Ghazali
Sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek, dapat diukur dengan akal sehat dan agama.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - TIGA ekor ikan, hidup dalam sebuah kolam yang dekat tetapi terpisah dari laut. Mereka hidup riang gembira, berputar-putar di kolam itu. Suatu hari, tiga ikan itu terlihat oleh beberapa orang manusia yang lewat. Mereka segera membuka tas, dan menemukan jaring tua yang kusut. Jaring itu perlahan-lahan mereka perbaiki. Salah satu ikan mulai menyadari bahaya yang tengah mengancam. Dia melompat dari kolam itu sekuat-kuatnya. Ternyata dia berhasil, bebas masuk ke laut lepas. Menyadari temannya sudah lari, seekor ikan lagi bersiasat. Ia pura-pura mati dengan mengapung. Melihat ikan itu mengapung, si manusia mengambilnya dan melemparkannya ke pasir. Diam-diam si ikan berguling-guling hingga akhirnya tiba di laut. Dia juga selamat.
Tersisalah ikan ketiga yang bodoh. Dia bingung, mengapa teman-temannya menghilang. Dia berputar-putar, berharap manusia tidak akan bisa menangkapnya. Tak lama kemudian, dengan jaring yang selesai diperbaiki, sangat mudah ikan itu ditangkap manusia. Dalam waktu singkat, ikan ketiga itu sudah terpanggang di atas api. Dia sungguh menyesal, tetapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Ia menggerutu: “Jika aku mendapat kesempatan lain, aku akan lebih memerhatikan teman-temanku yang bijak dan berupaya untuk berenang ke laut, yang akan menjadi rumahku dan meninggalkan kolam sepi ini selamanya.”
Kisah di atas dipaparkan oleh Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi. Dari kisah ini kita dapat belajar tentang kesempatan saat kesempitan, kemampuan membaca tantangan dan peluang, serta keberanian mengambil keputusan dan menanggung resiko dalam hidup. Tiga perilaku ikan itu boleh jadi pernah kita alami dalam kesempatan yang berlainan. Satu saat, kita tidak menyadari akan sesuatu yang berbahaya tengah mengancam kita, hingga kita menjadi korban. Lain kali, kita menyadari bahaya itu dan segera berusaha menyelamatkan diri. Kadangkala kita baru sadar akan bahaya itu setelah orang lain memberikan petunjuk kepada kita hingga kita pun turut selamat.
Hidup pada dasarnya adalah kesempatan. Selama kita masih bernapas, kita berkesempatan untuk berpikir, membuat keputusan dan bertindak, dari hal-hal kecil hingga yang besar dan serius. Tiap kita tidak sama dalam menggunakan kesempatan ini karena tergantung pada pengetahuan, keinginan dan kemampuan kita masing-masing. Tanpa pengetahuan, kita tidak dapat memahami tantangan dan peluang yang ada di depan kita. Tanpa keinginan, kita tidak akan tergerak untuk bertindak. Tanpa kemampuan, kita tidak akan bisa mewujudkan keinginan. Karena itu, meskipun pengetahuan dan kemampuan kita terbatas, keduanya sangat penting dalam hidup kita.
Kesempatan itu berada dalam waktu, yakni rentang masa yang kita alami di dunia ini. Kita tak pernah tahu, kapan hidup bermula dan berakhir, kecuali setelah itu terjadi. Yang kita tahu adalah, saat ini kita tengah hidup, dan suatu saat nanti, entah kapan, kita akan wafat. Waktu dapat kita jalani dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat, mudarat atau netral. Yang bermanfaat adalah yang mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. Yang mudarat adalah yang mendatangkan keburukan dan penderitaan. Yang netral adalah yang tidak bermanfaat dan tidak mudarat, tetapi boleh dilakukan. Meskipun jika dicermati lebih jauh, yang netral itu juga mudarat, karena kita menyia-nyiakan waktu.
Bagaimanakah kita menentukan sesuatu itu bermanfaat atau mudarat? Kita menggunakan akal sehat dan tuntunan agama. Sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek, dapat diukur dengan akal sehat dan agama. Mengapa perlu agama? Karena agama memberikan jawaban terhadap pertanyaan paling penting dalam hidup ini, yaitu dari mana kita berasal, apa tugas kita di dunia ini, dan kemana kelak kita akan kembali. Agama mengingatkan bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Kesempatan dalam hidup harus kita isi dengan perbuatan baik. Ketika kita melakukan kebaikan, kita akan merasa hidup kita bernilai dan bermakna. Inilah bahagia sejati.
Kisah tiga ikan dari Rumi di atas juga mirip dengan kisah yang dituturkan al-Ghazali. Suatu hari, sebuah kapal yang diisi penuh oleh penumpang berlayar menuju satu kota di pulau nan jauh. Setelah berlayar beberapa hari, kapal itu transit di sebuah pulau untuk istirahat. Sebagian penumpang turun sebentar menikmati udara segar dan pemandangan alam nan indah, tetapi mereka segera kembali. Sebagian lagi berjalan-jalan di pulau itu, mengambil aneka buah dan batu berharga, hingga nyaris tertinggal oleh kapal. Sebagian lagi, terpesona dengan keindahan dan kekayaan pulau itu sehingga saat kembali, kapal sudah pergi. Mereka akhirnya mati kelaparan dan dimakan binatang buas.
Dalam kisah Rumi, kolam dan tiga ikan itu adalah dunia ini dan diri kita yang dikungkung hawa nafsu. Kita takkan merdeka kecuali dapat terbebas dari kungkungan hawa nafsu itu, lalu menyelam dalam samudera keagungan dan keindahan Tuhan. Untuk itu diperlukan perjuangan dan keberanian dalam mengambil kesempatan. Dalam kisah al-Ghazali, kota tujuan akhir adalah Tuhan, di mana manusia akan mendapatkan kebahagian (surga), sedangkan pulau transit itu adalah kehidupan dunia ini. Kita berhak menikmati dunia ini, tetapi jangan sampai lupa dengan tujuan perjalanan kita yang sejati. “Jadilah kau di dunia ini laksana orang asing, atau penyeberang jalan,” kata Nabi.
Demikianlah tamsil yang dipaparkan Rumi dan al-Ghazali agar mudah kita pahami. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrah4man-rektor-universitas-islam-negeri-uin-antasari.jpg)