Tajuk
Kesungguhan Guru
Saat pekan lalu melakukan sidak ke SDN Raden, Wakil Bupati Abdi Rahman, mendapati kenyataan yang membuat dia prihatin bahkan sedih.
BANJARMASINPOST.CO.ID - SATU fakta yang mengejutkan atau membingungkan, datang dari Kecamatan Kurau di Kabupaten Tanahlaut.
Saat pekan lalu melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SDN Raden, Wakil Bupati Abdi Rahman, mendapati kenyataan yang membuat dia prihatin bahkan sedih.
Bagaimana tidak. Ada murid kelas VI yang belum bisa membaca serta belum hafal Pancasila dan lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya!
Mengutip pendapat Jeanne Chall, seorang ahli teori pendidikan, dalam bukunya Stages of Reading Development, sejatinya anak mulai belajar membaca pada usia enam tahun.
Dua tahun kemudian, anak pun cukup lancar membaca.
Namun dari segi kedokteran, dikenal disleksia yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja.
Menurut dokter Riza Marlina situs alodokter.com, penderita disleksia kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.
Belum diketahui penyebab pasti disleksia, tetapi kondisi ini diduga terkait kelainan gen yang memengaruhi kinerja otak dalam membaca dan berbahasa.
Terlepas dari itu, langkah cepat diambil Pemkab Tala. Wabup langsung meminta penjelasan pengawas sekolah dan Disdikbud Tala.
Dia menegaskan sudah seharusnya seorang guru mengajar dan mendidik murid ibarat anak sendiri.
Apabila itu dilakukan oleh pengajar yang baik, bahkan berkualitas, hasilnya juga akan terlihat jelas.
Selain itu, diperlukan usaha guru yang mau sepenuh hati menunaikan tugas agar murid yang semula tidak bisa menjadi bisa.
Bukan sekadar menggugurkan kewajiban mengajar di sekolah.
Terkait itu, wabup minta Disdikbud Tala mengetatkan pengawasan di sekolah-sekolah.
Ini penting agar masalah serupa dapat dicegah dan segera diselesaikan.
Dia memerintahkan disdikbud segera membikin standar operasional prosedur (SOP) yang jelas untuk menertibkan sekolah agar lebih serius mendidik siswa.