Tips Sehat

Pemicu Naiknya Gula Darah dari Makanan Berpengawet, dr Zaidul Akbar Jabarkan Real Food dan Fake Food

dr Zaidul Akbar terangkan tentang Real Food dan Fake Food. Menurutnya sering mengkonsumsi makanan tak alami bisa memicu penyakit Gula darah

Penulis: Mariana | Editor: Irfani Rahman
Banjarmasinpost.co.id
Buah-buahan. Mengkonsumsi buhan-buhan sangat baik untuk tubuh 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi kesehatan tubuh manusia. dr Zaidul Akbar menjabarkan perbedaan Real Food dan Fake Food.

Dokter Zaidul Akbar turut menjabarkan bahaya mengonsumsi makanan yang tidak alami, di antaranya dapat memicu naiknya Gula darah.

Saat ini dikenal istilah Real Food dan Fake Food. Real Food adalah makanan alami dengan sedikit pemrosesan atau bahkan tidak diproses sama sekali.

Real Food dapat langsung dimakan, direbus, dikukus, atau dipanggang tanpa proses lebih dan tidak mengurangi nutrisi di dalamnya.

Baca juga: Bahaya Makan Gorengan Sebabkan Konstipasi dan Asam Lambung, dr Zaidul Akbar Imbau Ganti Rebusan

Baca juga: Segudang Manfaat Minum Air Hangat Pagi Hari, Salah Satunya Mengurangi Stres

Lantas, apa itu Fake Food? Berbahayakah bagi tubuh ketika dikonsumsi?

dr Zaidul Akbar menjelaskan istilah real food dan fake food baru dikenal beberapa waktu belakangan ini karena industrialisasi makanan.

"Dulu sekitar 30-40 tahun silam tidak banyak makanan olahan seperti sekarang yang dalam makanan tersebut banyak tambahan pangan sintetik. Kita harus ngerti real food dan fake food, real food adalah makanan berasal dari alam, entah dari daratan lautan, masih mengandung unsur asli, dan tidak banyak pengolahan," jelas dr Zaidul Akbar dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube TRANS7 OFFICIAL.

Ia menambahkan, ada beberapa jenis makanan real food yang harus diolah tau melalui proses pengolahan terlebih dahulu.

Misalnya daging ayam mentah, bisa dipanggang, digoreng, dibikin sup dan dikasih bumbu sejatinya itu masih real food.

Sementara fake food adalah kelompok makanan yang sudah melalui tahapan panjang pemrosesan dengan campuran beragam bahan, termasuk pengawet, pewarna sintetis, dan bahan kimia lainnya.

Fake food diproduksi dengan mengubah rasa dan bentuk asli makanan agar lebih praktis dan awet.

Bahan makanan olahan jenis ini akan berdampak bahaya bagi tubuh jika dikonsumsi terus-menerus.

"Fake food ini asalnya saja sudah tidak sehat ditambah lagi dengan bahan pangan sintetis yang membuat makanan bertahan, contoh donat yang dibikin dari tepung terigu, ditambahkan bahan-bahan lain, seperti mentega, gula pasir, telur, dan beberapa donat ditambahkan dengan berbagai macam pengawet yang membuat awet," urainya.

Baca juga: Manfaat Mandi Pagi dengan Air Dingin, Diantaranya Tingkatkan Imunitas dan Meringankan Depresi

Baca juga: Tubuh Tetap Sehat Selama Musim Hujan, dr Reisa Broto Asmoro Bagikan Tipsnya

Bahaya kesehatan yang mengancam ketika mengonsumsi terlalu sering dan fake food adalah mengakibatkan naiknya gula darah karena miskin serat. Tidak memiliki mineral penting antara lain vitamin, enzim, dan nutrisi lainnya.

Dalam konteks kesehatan, semakin banyak real food yang dikonsumsi semakin baik kesehatan tubuh seseorang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved