Opini Publik

Membangun Kesadaran Teologi Kurban

merayakan ritual hari besar keagamaan, tanpa memahami esensinya, alhasil, apa yang kita lakukan adalah sia-sia belaka.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Syahrul Kirom M Phil Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta 

Oleh: Syahrul Kirom M Phil Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENJELANG Iduladha yang tepat jatuh pada tanggal 10 Juli 2022, semua umat Islam di Indonesia sudah seharusnya merefleksikan secara kritis-filosofis apa sesungguhnya makna dibalik ibadah kurban bagi umat muslim? Sebab apa, jika kita merayakan sebuah ritual hari besar keagamaan, tanpa memahami esensinya secara genuine. Alhasil, apa yang kita lakukan dengan memberikan sumbangan hewan kurban untuk disembelih adalah sia-sia belaka.

Dalam bahasa arab, kurban atau disebut juga dengan Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual kurban merupakan salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, di mana dilakukan penyembelihan binatang ternak, seperti kambing, sapi, onta, kerbau.

Secara teologis, kurban merupakan wujud kepasrahan total seorang hamba kepada sang pencipta alam semesta ini, dengan tujuan untuk membersihkan eksistensi dirinya dari berbagai nafsu kebinatangan dan keserakahan terhadap unsur keduniaan. Karena itu, ibadah ini diimplementasikan dalam bentuk penyembelihan hewan.

Kurban pada hakikatnya sudah menjadi syariat Islam. Setiap umat Islam wajib melakukan ibadah kurban bagi yang mampu dan mempunyai kelebihan harta kekayaan. Sementara itu, kurban telah menjadi syariat Allah SWT yang dibawa Nabi Ibrahim sehingga fenomena itu lalu dilestarikan oleh Nabi Muhammad saw. Atas dasar legimitasi dan perintah Allah SWT dalam Al-quran surat Al-Kautsar (108: 2) telah dijelaskan, “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah”.

Memang benar, kurban itu wujudnya adalah berupa hewan. Tapi, secara simbolik itu hanya untuk dipersembahkan kepada Allah. Tetapi, makna secara esensial yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darahnya melainkan adalah ketaqwaan manusia terhadap hambanya (QS. 5 : 22:37). Ketaqwaan merupakan salah satu syarat mutlak yang harus diaplikasikan untuk mencintai sesama manusia dengan segala kerendahhatian dan kearifannya.

Secara ontologi, kurban sendiri tidak cukup hanya dipahami dari segi individualistik dan materialistik. Artinya kurban bukan hanya sekedar sebagai penebus dosa dan kewajiban dengan mengurbankan hak miliknya atas nilai-nilai nominal. Namun, hari raya kurban juga harus ditinjau pada aspek sosial sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar, yakni proses pembebasan umat dari ketidakberdayaan, kelaparan dan kemiskinan serta semangat menyatu dengan kaum neomustadhafyin.

Asghar Ali Engineer dalam karyanya “Islam and Liberation Theology : Essay on Liberative Elements in Islam” (2003), menjelaskan bahwa Islam adalah umat yang selalu mengentaskan diri dari orang-orang yang tertindas. Islam melarang orang yang selalu mengeksploitasi dan mengkorupsi hak orang lain. Bahkan menyiksa terhadap sesama umat manusia.

Pada hakikatnya manusia dilahirkan dalam bentuk kesucian (fitrah) yang masih bersih dari noda-noda hitam. Karena itu fitrah manusia harus dinyatakan dalam sikap suci dan baik kepada sesama.

Sifat dasar kesucian itu sendiri disebut hanifiyah. Sebagai makhluk yang hanif itu manusia memiliki dorongan naluri kebaikan. Pernyataan tersebut, dapat ditafsirkan juga sebagai makhluk yang mempunyai sikap saling mencintai. Sudah semestinya mereka harus menegakkan keadilan sosial dalam masyarakat.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved