Tajuk

Permainan Porang

petani porang di Bumi Sanggam dihadapkan pada perkara sulit. Mereka belum bisa menjual porang yang siap dipanen.

Editor: Eka Dinayanti
BANJARMASINPOST.CO.ID/NURHOLIS HUDA
Salah satu petani di Kiram, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selata, sedang menanam porang, Rabu (18/11/2020). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - PORANG jadi pembicaraan banyak orang dalam beberapa tahun terakhir. Komoditas pertanian sejenis umbi-umbian itu naik daun menyusul viralnya kisah Paidi.

Mantan pemulung asal Madiun, Jawa Timur tersebut, jadi miliarder gegara sukses membudidayakan tanaman bernama latin, Amorphophallus muelleri Bl itu.

Kesuksesan Paidi menginspirasi para petani. Termasuk di Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan. Antusiasme tersebut didukung oleh pemerintah setempat.

Melalui Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Balangan, masyarakat yang semula bertani dan berkebun karet, diajari bertanam, merawat hingga dibantu memasarkan hasil panen porang.

Awalnya semua berjalan baik. Sampai akhirnya petani porang di Bumi Sanggam dihadapkan pada perkara sulit. Mereka belum bisa menjual porang yang siap dipanen.

Penyebabnya aturan baru untuk pemasaran porang. Terutama terkait registrasi lahan meliputi luas area, jumlah tanaman porang bahkan pupuk yang digunakan.

Menurut Berlian Rezki Wijayanti, seorang pembudi daya porang di Bantul, Yogyakarta, kebanyakan perusahaan atau pabrik tidak mau menerima umbi yang dihasilkan dengan bantuan pupuk kimia maupun zat-zat kimia lainnya.

Pasalnya, akan sangat mempengaruhi kualitas hasil porang.

Mau tak mau, lebih kurang 73 petani porang di Balangan pun melakukan registrasi. Saat ini, lebih 80 persen lahan porang di Kabupaten Balangan sudah registrasi.

Luasan lahan secara keseluruhan yang menyebar di beberapa kecamatan, hampir 250 hektare.Namun permasala han tak lantas tuntas.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved