Fikrah

Syarat Menuntut Ilmu

Jangan lah sholat sebelum tergelincir matahari karena hal itu tasabbuh dengan sholat orang orang musrik.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIRIWAYATKAN, Imam Syafii RA pernah berkata, “Saudaraku, Anda tidak akan mendapatkan ilmu kecuali melalui enam perkara. Pertama, Zakaun (Kepintaran atau IQ), kesiapan diri, otak dan pikiran untuk menerima ilmu. Zakaun ini adalah pemberian Allah kepada manusia, sehingga ada orang yang cepat dapat memahami pelajaran, dapat mengerti dan hafal. Tetapi sebaliknya ada orang yang terlambat memahaminya. Nabi Daud AS mengajarkan doa diharapkan dapat paham dengan pelajaran, “Allahumma zitni bastatan fil ilmi wa jismi. Ya Allah berilah aku anugrah keluasan ilmu pengetahuan dan kesehatan badan.”

Kedua, Hiroson. Artinya kesungguhan dalam mencari ilmu seperti kesiapan belajar di waktu malam sudah membuka jadwal pelajaran, sehingga ia dapat tahu mana pelajaran yang harus di hafal, dipahami dibaca dan barang kali ada berupa ujian atau ulangan yang akan dipertanyakan oleh guru nantinya di dalam kelas.

Ketiga, Istibarun. Artinya kesabaran, karena menuntut ilmu tidak bisa sembarangan, tetapi harus sabar menghadapinya, di waktu malam memeriksa jadwal pelajaran apa yang harus di hafal, dibaca dan barang kali ada yang akan dipertanyakan oleh guru berupa ulangan.

Keempat Bulgatun. Maksudnya adalah uang. Karena menuntut ilmu memerlukan uang untuk membeli buku-buku pelajaran, pulpen dan pena untuk mencatat termasuklah peralatan lainnya seperti tas agar buku tidak berserakan dan dapat membawa dengan rapi. Sehubungan dengan bulgah atau uang ini amalkan lah doa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Abu Umamah.

Diriwayatkan, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW masuk ke Masjid Nabawi dan menemukan Abu Umamah duduk termenung, di wajahnya kelihatan tanda-tanda murung dan sedih. Lalu Rasul bertanya, “Wahai Abu Umamah mengapa kamu duduk di masjid, padahal belum waktu sholat. Abu Mmamah menjawab, “Sedih dan utang yang meliputi aku.”

Rasul menjawab, “Di mana engkau dengan tasbih malaikat dan para makhluk itu yang dimudahkan Allah bagi mereka untuk mencapai rezkinya.” Abu Umamah bertanya, “Apa itu wahai Rasul.” Lalu Rasul menerangkan, “Bacalah olehmu sesudah sholat sunnat subuh sebanyak 100 kali, yaitu subhanaullah wabihamdih subhanaullah hilazim astaghfirullh. Jika engkau belum selesai 100 kali lalu qamat di kumandangkan untuk mendirikan sholat, nanti engkau sempurnakan sesudah sholat sunnat subuh.”

Kita tahu sekarang orang-orang dari seluruh dunia, sudah pada pulang ke tanah air mereka. Kita ikut berdoa semoga mereka mendapatkan haji yang mabrur, dosa yang diampuni dan perdagangan yang tidak merugi. Rasul bersabda “Tabio bainal hajji wal omrati, fainnahuma yan fianil fakra wazunuba.” Artinya iringkan lah antara haji dan umrah keduanya menghapuskan kefakiran dan dosa. Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda, “Man sallal fajra jamaatan summa qaada yazkurullaha taala hatta tatlu asyamsyu summa sallah rakataini kanat lahu kaazril hajatin wa umratin tammah tammah tammah.” Artinya barang siapa yang mendirikan sholat subuh berjemaah di masjid atau di musalah (rumah Allah) kemudian dia sholat dua rakaat setelah matahari terbit (sholat sunnat israq), diberikan pahala sama dengan pahala haji dan umroh, yang sempurna yang sempurna yang sempurna. Dimaksukan berzikir menjelang matahari terbit adalah berzikir, bertasbih bershalawat, beristighfar dan membaca quran. Nah setelah matahari terbit ia pun sholat dua rakaat yang disebut dengan shalat sunat israq kepadanya lah yang diberikan pahala haji dan umrah tadi. Sesudah itu barulah ia pulang ke rumah, dan di rumah ia melaksanakan lagi sholat dhuha 6 rakaat dengan 3 kali salam.

Demikianlah acuan Rasulullah bagi seorang muslim demi menyambut hari pada setiap harinya. Nantinya ia bekerja dan bekerja sampai waktu zuhur lalu kepadanya diberikan kewajiban mendirikan sholat zuhur setelah matahari tergelinci dari puncaknya. Jangan lah sholat sebelum tergelincir matahari karena hal itu tasabbuh dengan sholat orang orang musrik.

Kita manusia ini jika tidak ada sholat zuhur, barang kali nafsu kita terus hendak bekerja, sehingga hal ini nantinya akan melemahkan badannya dan mengganggu kesehatannya nantinya setelah matahari cenderung ke barat dan cahayanya sudah mulai kekuning kuningan maka sampailah ia dengan kewajiban baru yaitu shoat asyar yang nantinya bila matahari tenggelam kepadanya diwajibkan lagi sholat magrib dan isya.

Allah SWT berfirman, ‘’Akimisshalata lidulukisyamsyi illa gasakil laili, waquranal fajri inna quranal fajri kana masyhuda.” Artinya dirikanlah sholat apabila matahari telah tegak (itulah dia sholat zuhur dan asyar), illa gasakillaili sampai gelap malam (Itulah sholat magrib dan isya), waquranal fajri kana mashuda artinya dirikanlah sholat subuh disaksikan oleh para malaikat.

Demikianlah kewajiban kita mendirikn sholat 5 waktu pada setiap harinya sebagai tiang agama. Nabi bersabda,” assalatu imaduddin. Artinya sholat 5 waktu adalah tiang agama. Sholat fardhu ini hendaknya dibaringi dengan sholat sunnat. Ada sunat qabliyah dan ada sunnat badiyah, sunat badiyah tidak ada sesudah subuh dan sesudah asyar, sholat sunat ini akan menyempurnakan sholat-sholat kita yang barang kali tidak sempurna, ketika sholat seseorang diperiksa, ternyata ad yang kurang sempurna, maka Allah SWT menyuruh malaikat untuk memeriksa adakah ia mengerjakan sholat sholat sunnat. Bila ada, maka sholat fardunya yang kurang sempurna itu ditutupi dengan sholat sunnat itu tadi. Tetapi bila tidak ada maka bolonglah sholatnya atau tidak sempurna. Sholat sunnat yang paling afdol adalah sholat sunnat tahajjud pada setiap malam. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved