Jendela
Penyembah Berhala Modern
Peradaban modern adalah peradaban mesin, maka kita perlu mempertanyakan, apakah benar kita sudah terbebas dari berhala?
Oleh : Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - CHARLES le Gai Eaton (1921-2010), seorang mantan diplomat Inggris yang masuk Islam, dan kemudian dikenal dengan nama Hasan le Gai Eaton atau Hassan Abdul Hakeem, merupakan salah seorang pemikir yang sangat kritis melihat peradaban modern yang disebutnya sebagai ‘peradaban mesin’.
Mesin bekerja secara teratur sesuai alur kerjanya, cepat, tepat tetapi tanpa pikiran, perasaan dan sikap. Peradaban mesin menggiring kita menjadi semakin tidak manusiawi, terlepas dari akar jatidiri, dan terputus dari ikatan ruhani dengan Sang Pencipta.
Gai Eaton mengingatkan saya pada pengalaman waktu masih kecil. Ketika saya masih kanak-kanak, dari pagi hingga siang, saya belajar di sekolah dasar, sedangkan pada sore harinya, saya belajar di madrasah diniyah, yang kala itu juga disebut sekolah Arab.
Salah satu pelajaran yang saya sukai adalah cerita tentang nabi-nabi. Kebetulan ada beberapa guru kami ketika itu yang sangat pandai bercerita, dengan intonasi suara yang memukau dan pilihan kata dan ungkapan yang mengena.
Biasanya, ketika guru sudah memulai ceritanya, anak-anak yang suka berisik berubah jadi diam dan penuh perhatian. Suara guru menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kelas itu.
Salah satu cerita yang sangat memukau kami ketika itu adalah mengenai Nabi Ibrahim. Diceritakan bahwa Ibrahim memiliki seorang ayah bernama Azar, seorang pembuat patung, yang dijadikan berhala atau pujaan seperti Tuhan.
Ibrahim sendiri mengalami keguncangan iman. Semula ia menganggap bulan, bintang dan matahari adalah Tuhan, karena semua benda itu memancarkan cahaya dalam kegelapan malam. Namun, karena bintang, bulan dan matahari itu tak selamanya tampak, melainkan pada saatnya lenyap tak terlihat, berarti mereka bukan Tuhan.
Ibrahim akhirnya menyimpulkan, Tuhan adalah pencipta seluruh alam semesta, langit dan bumi dan semua yang ada.
Dengan demikian, Ibrahim akhirnya berbeda keyakinan dengan ayahnya dan kaumnya. Mereka menyembah berhala, sedangkan Ibrahim menyembah Tuhan yang Esa. Ibrahim berdebat dengan ayahnya, tetapi ayahnya tetap pada pendiriannya.
Suatu hari Ibrahim bersiasat. Ia mengambil kapak, lalu menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya. Ia sengaja meninggalkan satu berhala yang paling besar, dan menggantungkan kapak di lehernya. Ketika orang-orang marah, menuduh Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, Ibrahim berkata, “Sebaiknya kalian bertanya pada berhala yang paling besar itu.” Lalu, dia mengingatkan, “Apakah kalian menyembah patung yang kalian pahat? Allah-lah yang menciptakan kalian dan (patung) yang kalian ciptakan itu.”
Sebagai anak-anak, saya membayangkan, betapa bodohnya para penyembah berhala itu, dan betapa cerdasnya Ibrahim. Kami tertawa-tawa mendengar Ibrahim menggantungkan kapak di leher berhala yang paling besar. Namun, suatu hari saya menemukan sebuah komik tentang orang-orang Arab Jahiliyah yang menyembah berhala.
Komik itu sedikit memberi saya pemahaman, bahwa ternyata para penyembah berhala itu bukan menuhankan patung. Patung itu hanya sebagai pengingat akan seseorang yang dianggap hebat dan baik. Konon, pada suatu masa ada orang-orang yang baik budi dan perkasa serta suka menolong.
Setelah meninggal, untuk mengenang mereka, dibuatlah patung-patung mirip mereka. Kemudian, lama-lama, patung-patung itu justru disembah seperti Tuhan.
Bagi masyarakat modern, latar belakang penyembahan berhala di atas kiranya bisa dipahami, tetapi tetap sulit diterima akal sehat. Bagaimanapun juga, memuja atau menuhankan sesama manusia, entah itu langsung atau melalui perantara berupa patung, tidaklah bisa diterima akal karena manusia, sehebat apapun dia, tetaplah manusia, bukan Tuhan.
Manusia semula tidak ada, lalu ada, dan kemudian kembali tidak ada alias mati. Karena itu, tampaknya manusia modern yang konon sangat rasional, hanya percaya kepada yang masuk akal, bahkan hanya percaya pada yang dapat diindera sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah, tidak akan percaya pada penyembahan berhala. Patung-patung modern dibuat bukan untuk dipuja dan disembah, tetapi sekadar karya seni saja.
Namun, jika kita kembali kepada pandangan Gai Eaton, bahwa peradaban modern adalah peradaban mesin, maka kita perlu mempertanyakan, apakah benar kita sudah terbebas dari berhala? Apakah berhala itu? Berhala adalah sesuatu yang kita ciptakan, kemudian kita tunduk patuh kepadanya.
Jika definisi ini kita sepakati, maka segala macam mesin yang kita ciptakan, yang ternyata membuat kita tunduk, patuh dan tak berkutik, berarti kita hidup dalam penyembahan berhala pula. Yang paling menentukan di sini adalah sikap kita terhadap mesin-mesin atau teknologi canggih yang kita ciptakan itu. Apakah mereka menjadi alat atau tujuan, menjadi pelayan atau tuan?
Sekarang, mari kita renungkan. Apakah ponsel, telivisi, laptop, jam tangan, pesawat, mobil, sepeda motor, mal-mal, supermarket, tempat-tempat hiburan, gedung-gedung dan seterusnya, yang kita ciptakan di zaman modern ini, adalah alat untuk mencapai tujuan kemanusiaan dan ingat akan Tuhan, atau sebagai tujuan itu sendiri?.
Apakah semua benda itu pelayan atau tuan kita? Apakah kita yang memiliki benda-benda itu atau benda-benda itu yang memiliki kita? Tidakkah kita merasa bahwa hidup kita sudah diatur oleh mesin-mesin buatan kita itu? Kapan kita bekerja, istirahat dan bergaul, sangat tergantung pada benda-benda itu.
Lambat laun, kita menjadi laksana mesin. Kita membuang perasaan, pikiran dan sikap kita. Kita menjadi apatis, hidup tanpa tujuan, tanpa makna. Jadi, benarkah manusia modern lebih cerdas dari masyarakat kuno penyembah berhala?(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/profesor-dr-h-mujiburrahman-ma-rektor-uin-antasari.jpg)