Jendela

Momen Emosional

bagi HAMKA, cerita-cerita sedih itu sangat bermanfaat bagi pembaca guna membangkitkan hakikat kemanusiaannya.

Editor: Hari Widodo
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - LATIFAH adalah mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Antasari Angkatan 2018. Setelah kuliah empat tahun, ia lulus ujian skripsi dan siap mengikuti wisuda. Namun setelah itu dia sakit. Tak disangka, ajal menjemputnya.

Teman-temannya, para dosen, dan lebih-lebih orangtuanya, merasa benar-benar sedih. Mengapa dia begitu cepat pergi, sebelum merayakan keberhasilannya?.

Sebagai ungkapan empati, pada acara wisuda 24 Agustus 2022 lalu, panitia menampilkan video singkat di layar lebar tentang Latifah.

Kemudian rektor menyerahkan ijazah Latifah kepada kedua orangtuanya. Momen ini membuat suasana haru biru. Banyak hadirin yang berurai airmata.

Menghadirkan orangtua wisudawan/ti yang telah meninggal tidaklah unik. Banyak perguruan tinggi lain yang melakukannya. Karena itu, ketika menyampaikan sambutan sebagai rektor, saya teringat pada HAMKA.

HAMKA sering menulis cerita yang menguras emosi. Seorang pengamat dengan sinis mengatakan bahwa kesan mendalam setelah membaca cerita-cerita HAMKA tidak lebih dari rasa kasihan terhadap tokoh-tokoh yang diceritakannya.

Namun, bagi HAMKA, cerita-cerita sedih itu sangat bermanfaat bagi pembaca guna membangkitkan hakikat kemanusiaannya. Bahkan menurut HAMKA, seorang pendosa akan lebih mudah disadarkan jika ia mau menghayati kisah-kisah sedih.

Selain itu, musibah kematian seperti yang menimpa Latifah, adalah kejadian yang tergolong berat, terutama bagi keluarga dan orang-orang terdekat.

Kematian adalah keterpisahan permanen di dunia ini. Ada rasa tercerabut, terlepas dan terputus bagi keluarga dan kolega yang ditinggalkan. 

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved