Breaking News:

Opini Publik

Lima Posisi Kontrol Guru terhadap Siswa

Menegakkan disiplin dan menumbuhkan karakter pada siswa tidak semudah membalik telapak tangan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
R usmini M.PdKepala Sekolah SMPN 4 Sungai Loban 

Oleh: Rusmini M.Pd, Kepala Sekolah SMPN 4 Sungai Loban

BANJARMASINPOST.CO.ID - AKHIR-akhir ini lagi viral berita tentang seorang kepala sekolah memukul sejumlah siswa dikarenakan ada di antara siswa melanggar peraturan sekolah yaitu merokok di dalam kelas. Semua siswa di kelas tersebut bungkam saat ditanya siapa pelakunya. Siswa seolah-olah bekerja sama untuk menutupi kesalahan kawannya, sehingga kepala sekolah terpancing emosi untuk melakukan tindakan pemukulan, tindakan tersebut mempunyai tujuan untuk menjadikan siswa bertanggung jawab terhadap perbuatannya.

Beragam komentar bermunculan berkaitan dengan berita tersebut. Banyak pihak memberikan dukung terhadap tindakan kepala sekolah untuk menegakan aturan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri siswa, namun tidak sedikit yang menghujat tindakan tersebut. Bahkan orangtua siswa sampai membawa ke ranah hukum terhadap tindakan kepala sekolah tersebut.

Sebagai seorang kepala sekolah yang notabene merupakan seorang guru sering kali kita berhadapan dengan masalah seperti ini, lalu apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita harus bertindak ? Wahai guru apakah kita hanya berpangku tangan tanpa ada solusi ?

Menegakkan disiplin dan menumbuhkan karakter pada siswa tidak semudah membalik telapak tangan, tapi kita sebagai seorang guru tentunya akan berusaha untuk menegakan disiplin di sekolah tanpa menyakiti siswa kita sendiri. Ini dapat kita lakukan dengan mengembangkan program disiplin positif yang berpusat pada siswa dengan pendekatan restitusi yang disebut dengan lima posisi kontrol guru.

Menurut Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998), Gossen berkesimpulan ada lima posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut dikatakannya adalah posisi kontrol sebagai penghukum, posisi kontrol sebagai pembuat rasa bersalah, posisi kontrol sebagai teman, posisi kontrol sebagai pemantau dan posisi kontrol sebagai manajer.

Pada posisi kontrol guru sebagai penghukum. Jika guru menempatkan dirinya pada posisi kontrol ini, guru sering kali berhadapan dengan masalah-masalah yang di perbuat oleh siswa di sekolah. Guru sering melakukan kekerasan fisik dan juga verbal. Guru sering berkata patuhi aturan saya, awas kalau tidak menurut, kamu lagi kamu lagi yang membuat kesalahan dan berbagai kata yang membuat siswa sakit hati dan juga dendam.

Posisi kontrol pembuat rasa bersalah. Pada posisi ini guru sering bersuara lembut, suasana menjadi hening sehingga siswa merasa tidak nyaman dan rendah diri.Guru juga bisa berkata “Bapak sangat kecewa dengan perbuatanmu “ atau “Kalau orangtuamu tahu perbuatan seperti ini, apa mereka tidak malu,coba kamu pikirkan Nak “ lalu bagaimana perasaan siswa jika posisi kontrol guru seperti ini tentu siswa akan merasa tidak berharga dan merasa mengecewakan orang-orang yang disayanginya. Ini akan berdampak buruk terhadap penilaian diri siswa itu sendiri.

Posisi kontrol guru sebagai teman. Pada posisi ini bagaimana selayaknya guru bersikap. Tentunya guru tidak akan menyakiti siswa, tetapi tetap melaksanakan tugas sebagai pengontrol bagi siswanya melalui tindakan yang persuasif. Sebagai contoh guru mengajak siswanya dengan berkata “ Ayo bantulah, demi ibu ya”. Namun perlu juga di ingat pada posisi ini bisa terjadi hubungan negatif dan juga positif antara guru dengan siswanya. Negatifnya bila suatu saat guru tidak membantunya maka siswa merasa dikecewakan dan tidak mau lagi berusaha. Positifnya hubungan baik antara guru dan murid akan terjalin sehingga guru akan mudah untuk mempengaruhi siswa agar bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan yang ada di sekolah.

Posisi kontrol guru sebagai pemantau. Pada posisi ini dapat diartikan bahwa guru sebagai pengawas atau pemantau. Guru bertanggung jawab terhadap perilaku siswa yang diawasinya. Pada posisi ini guru berpedoman pada peraturan-peraturan dan konsekuensi yang ada di sekolah. Guru akan mencatat bukti dan kejadian yang terjadi terhadap perilakuk siswa. Catatan yang dilakukan oleh guru bisa berupa stiker dan catatan harian siswa. Jika terjadi pelanggaran maka guru tidak perlu melakukan tindakan menguras emosi dengan marah-marah ataupun dengan tindakan yang tidak menyenangkan bagi siswa, tetapi guru hanya menyampaikan kesalahan siswa dan konsekuensi atau sanksi apa yang harus dijalani oleh siswa.

Posisi kontrol guru yang terakhir adalah posisi kontrol sebagai manajer. Pada posisi ini guru mengerjakan sesuatu bersama-sama dengan siswanya, memotivasi siswa untuk mempertanggungjawabkan segala perilakunya serta mendukung siswa untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh siswa itu sendiri. Guru bisa menjadi seorang manajer bagi siswa. Tentu dia harus memiliki keterampilan sebagai seorang teman dan juga sebagai seorang pemantau. Dengan demikian, bisa jadi dalam waktu tertentu guru bertindak sebagai teman dan juga sebagai pemantau atau kedua-duanya jika diperlukan dalam waktu yang bersamaan.

Menyimak dan memahami lima posisis kontrol guru di atas maka kita sebagai seorang guru tentunya dapat memposisikan diri dengan baik pada setiap permasalahan yang dihadapi dalam penegakan disiplin ataupun penumbuhan karakter terhadap siswa kita di kelas maupun di lingkungan sekolah.

Kita menginginkan siswa-siswa menjadi manusia-manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri. Lalu bagaimana harapan kita ini dapat terwujud tentunya dengan menjadikan siswa kita sebagai seorang manajer bagi dirinya sendiri. Menjadikan siswa menjadi manajer bagi dirinya sendiri dapat dilakukan oleh guru dengan mengajak siswa untuk menganalisa kebutuhan dirinya sendiri dan juga siswa lain. Mengajak siswa berkolaborasi untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi untuk memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan.

Wahai para guru hebat teruslah untuk meningkatkan kompetensi diri agar dapat memberi teladan, tuntunan dan dorongan pada siswa kita sehingga mereka tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Hendaknya sebagai seorang guru kita juga berperilaku selaras dengan filosofi pendidikan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang terdiri dari Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madio Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Langkah terakhir yang dapat dilakukan guru adalah dengan mendoakan siswa kita agar mereka menjadi generasi yang beriman dan beraklak mulia, bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan juga orang lain serta berguna bagi sesama. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved