Jendela

Normal dan Abnormal

orang yang normal adalah orang yang mengikuti norma, yakni apa yag seharusnya.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman MA 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU hari, seorang pejabat berbicara di depan para pengelola proyek bangunan yang berada di bawah tanggung jawabnya. “Saya tidak minta apa-apa, kecuali tiga hal. Pertama, tepat mutu. Kedua, tepat waktu. Ketiga, bebas dari korupsi. Jika ada anak buah saya meminta uang atas nama saya, itu pasti bohong. Laporkan kepada saya!” katanya lantang.

Seorang pimpinan BPKP yang turut hadir berbisik kepada pejabat tadi. “Mohon izin, saya ingin berbicara dengan mereka tanpa kehadiran Bapak.” “Ya, silakan,” jawabnya. Beliau pun keluar ruangan. Pimpinan BPKP itu kemudian berkata kepada para pengelola proyek, “Saya sudah sering mendengar seorang pejabat berbicara seperti beliau tadi, tetapi pejabat yang ini benar-benar serius. Dia tidak pura-pura. Dia sungguh-sungguh. Jadi kalian jangan main-main!”

Sudah maklum, hidup manusia harus dipandu oleh peraturan, hukum, dan agama sebagai acuan. Acuan ini menunjukkan tentang apa yang seharusnya atau normatif. Bagi kaum beriman, yang normatif itu terutama berasal dari agama. Namun, sudah maklum juga, apa yang seharusnya itu kadangkala berbeda bahkan bertentangan dengan yang kita temukan dalam kenyataan. Ketentuan hukum diharapkan dapat mewujudkan ketertiban dan keadilan, tetapi dalan pelaksanaannya bisa saja terbalik. Begitu pula, perilaku umat beragama belum tentu sesuai dengan ajaran agama.

Di dalam Alqur’an, ada beberapa istilah yang menunjukkan perbandingan antara yang seharusnya dan kenyataan itu. Ada yang disebut mukmin, yakni orang yang beriman, yang percaya. Biasanya, predikat beriman ini dipadukan dengan beramal saleh, berbuat baik. Iman melahirkan perilaku yang baik. Namun ada juga yang sebaliknya, yaitu dia pura-pura beriman atau benar-benar menolak kebenaran. Yang pura-pura disebut munafik. Yang menolak disebut kafir. Ada lagi yang percaya, tetapi hatinya bercabang ke yang lain, tidak percaya penuh. Inilah yang disebut musyrik.

Sungguh naif jika kita mengira bahwa istilah-istilah Alqur’an itu hanya berlaku untuk orang-orang di zaman dulu. Semua manusia di sepanjang masa bisa menjadi mukmin, munafik, kafir atau musyrik. Jika dalam kenyataan sehari-hari kita menolak kebenaran, berarti kita kafir. Jika kita suka berpura-pura, berarti kita munafik. Tandanya, kata Nabi, jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia ingkar; jika diberi amanah, ia berkhianat. Jika dalam keseharian kita menyembah harta, jabatan dan ketenaran, berarti kita tidak benar-benar setia kepada Allah. Hati kita bercabang. Hati kita syirik.

Hati yang munafik, kafir dan syirik itu menunjukkan kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Bahayanya adalah, ketika kita sudah lama terbiasa dengan kesenjangan itu, kita tidak lagi mempermasalahkannya. Lambat laun, dunia pun terbalik. Orang yang taat peraturan, hukum dan agama, yang perilakunya selaras dengan yang seharusnya, justru dianggap aneh. Orang yang aneh ini, mula-mula dianggap munafik. “Ah, dia itu kan pura-pura saja. Lihat saja nanti,” katanya. Namun, setelah terbukti dia istiqamah, dia pun dimusuhi dan dimarjinalkan.

Dalam konteks ini, kita sering mendengar istilah ‘normal’. Sesungguhnya, kata Charles Le Gai Eaton, kata normal itu seakar dengan kata ‘norma’, acuan tentang yang seharusnya tadi. Namun, di zaman modern ini, terjadi penyimpangan makna. Yang normal bukan yang sesuai norma, tetapi yang umum berlaku, yang mengikuti orang banyak. Bahayanya sangat jelas. Jika kebanyakan orang menganggap kesenjangan antara yang dikatakan dan yang dilakukan adalah hal biasa, maka orang yang memiliki integritas, satu kata dengan perbuatan, akan dianggap tidak normal alias abnormal. Dalam psikologi modern, orang yang abnormal itu tergolong sakit jiwa!

Sebaliknya, menurut cerita dosen saya, Noordiansyah, Prof. Zakiah Daradjat dalam satu pembelajaran di kelas pernah mengatakan bahwa jika kita melaksanakan survei psikologis tentang normal tidaknya manusia, maka dia memperkirakan, mayoritas orang itu tidak normal. Alasannya, orang yang normal itu salah satu cirinya adalah memiliki tujuan hidup yang jelas, dan menghayati tujuan hidup itu. Rumusan ini tentu masih umum. Jika dilihat dari sudut pandang agama, maka tujuan hidupnya itu harus selaras dengan yang diajarkan agama tentang dari mana kita berasal, ke mana kita akan kembali, serta apa yang harus kita lakukan di dunia ini.

Alhasil, jika kita kembali kepada makna aslinya, orang yang normal adalah orang yang mengikuti norma, yakni apa yag seharusnya. Jadi, orang yang normal itu adalah para nabi, para wali, orang-orang saleh dan bijak sepanjang masa. Karena itu, menjadi normal perlu perjuangan. Dalam bahasa agama, menjadi mukmin itu adalah perjuangan sampai kita berhasil bebas dari kemunafikan, kekafiran dan kemusyrikan. Tidak mudah, bukan? (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved