Fikrah

Membangun Rumah di Surga

Mereka yang tidak bisa membangun masjid bisa jalan menyedekahkan atau mewakafkan atau menginfakkan sebagian hartanya

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - BANYAK orang berlomba-lomba membangun rumah di dunia. Hal ini boleh-boleh saja tetapi seseorang janganlah lupa, bahwa membangun rumah di dunia bersifat sementara. Sebab dia akan bertempat tinggal di dalamnya sementara, atau selama hidup. Untuk itu janganlah melupakan tujuan dari membangun rumah itu, bukan karena ingin bermegah-megah, tapi hanyalah untuk berteduh dari kelelahan bekerja dan untuk tidur serta beristirahat.

Rumah di dunia menjadi tempat tinggal untuk menguatkan fisiknya agar dapat beribadah kepada Allah SWT. Terkait hal ini, nabi SAW menasehatkan, “Nawwiru manajilakum bissalati watilawatil quran”. Artinya terangilah rumah tanggamu dengan salat. Maksud salat di sini adalah salat-salat sunnah. Karena salat berjemaah, muslim dituntut untuk ke masjid melaksanakan secara berjamaah dan dijanjikan mendapatkan pahala 27 kali lipat dari salat sendirian.

Di samping itu orang yang pergi ke masjid untuk salat berjamaah mendapatkan pahala silaturahmi dengan tetangga dan umat Islam lainnya. Silaturrahmi adalah memanjangkan umur dan memurahkan rezeki. Nanti di hari kiamat bumi akan menjadi saksi batu-batuan dan tanah yang ia pijak yang memberitakan kabar beritanya seperti yang di firman kan Allah “Yaumaizin tuhaddisu akhbaraha biannarabbaka auhalaha yaumaizin yasdurunnasa astatan liyurauamalahum famankana khairan yara waman sakana syarran yara”. Artinya pada hari itu bumi menghabarkan beritanya bahwa Fulan bin Fulan berjalan di belakangku katanya maka bila baik akan dilihatnya baik sebaiknya bila jahat dilihatnya jahat. Demikianlah yang harus kita pelihara kesehariannya, selalu merajut kebajikan dan jangan merajut kejahatan. Karena semua itu nantinya akan disaksikan sehingga jangan menjadi penyesalan bagi kita karena kita tidak bisa lagi ke dunia untuk mengulangi perbuatan baik itu.

Di dalam hadist yang lain Rasulullah SAW menasehatkan agar selalu berjamaah, lebih lebih salat subuh beliau bersabda “Man sallal gadata jamaatan summa kaada yazkurullaha hatta tatlu asyamsyu summa salla rakataini,kanat lahu kaajri hajjatin waumratin tammah tammah tammah” Artinya barang siapa yang sholat subuh berjamaah di masjid maka adalah baginya dianugrahkan pahala haji dan umrah yang sempurna yang sempurna yang sempurna.

Dalam persoalan membangun masjid, bukan bearti setiap orang harus membangun masjid. Tidak demikian kalau seseorang mampu ya boleh boleh saja membangun masjid sendirian dengan harta miliknya inilah yang disabdakan nabi “Man bana masjidan lillah banaullahulahu baitan fil jannah walau kamahsyati kutatin”. Artinya Barang siapa yang membangun masjid karena Allah baginya di bangunkan rumah kendati hanya seperti sarang burung.

Mereka yang tidak bisa membangun masjid sendiri ia bisa membangun masjid dengan jalan menyedekahkan atau mewakafkan atau menginfakkan sebagian hartanya untuk ikut berderma membangun masjid yang dibangunkan oleh orang lain. Namum demikian ada jalan lain baginya untuk membangun masjid ialah dengan cara membangun masjid dari segi kerohaniannya yaitu memakmurkan masjid itu dengan berjemaah di dalamnya, di samping ia mendapatkan pahala silaturrahmi dengan jiran dan tetangga dan orang Islam lainnya. Makin jauh rumahnya dari masjid makin panjanglah jalan yang dilewatinya bahkan pepohonan dan dedaunan yang ia lewati bertasbih kepada Allah dan memohonkan ampun kepadanya untuk orang yang melewatinya ketika ia pergi ke masjid. Sementara itu bila kita ke masjid, kita tambah pula kebaikan dengan berderma untuk masjid atau siapa pun orang fakir dan miskin apabila seseorang bersedekah di waktu pagi itu maka dua malaikat berdoa kepada Allah. Yang satu berdoa “Allahummati mun fikan khalafa” Artinya Ya Allah berilah gantian kepada orang yang berinfak itu (jika banyak tentu gantiannya banyak pula jika sedikit gantiannya sedikit pula. Malaikat yang satunya berdoa, “Allahummati munsyikan talafa” Artinya Ya Allah rusakkan harta orang yang kikir itu.

Demikianlah amaliah kita di pagi itu dimana dengan demikian seorang muslim merajut kebajikan yang akan menjadi perbendaharaan pahala baginya di akhirat kelak. Dimaksudkan berzikir mengingat Allah di masjid adalah dengan membaca Al-Qur’an beristighfar dan berselawat sampai matahari terbit. Kemudian setelah matahari terbit ia salat 2 rakaat, yang disebut salat israq sesudah itu barulah ia pulang ke rumah melaksanakan salat dhuha, ini salat di waktu siang dan tahajjud dan witir sebagai salat sunnat di waktu malam selebihnya membangun masjid dengan pengertian 2 macam. Pertama ikut menyumbang membangun fisik masjid tersebut. Kedua dengan mengisi masjid itu yaitu memakmurkannya dengan berjamaah di dalamnya hal ini akan mendapatkan 27 kali lipat dari sholat sendirian di rumah di tambah lagi dengan mendapatkan pahala silaturahmi dan doa bersama imam di masjid itu. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved