Jendela
Membanggakan Nasab dan Guru
Kebanggaan ilmu dan akhlak adalah beban moral, yang harus ditanggung oleh anak keturunan seseorang yang mulia.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - AKTIVIS muda NU, Hamzah Sahal, baru-baru ini menulis tentang KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, yang sering menyebut nama orangtuanya, KH Nursalim al-Hafizh dan gurunya, KH Maimoen Zubair. Dia bertanya-tanya, mengapa Gus Baha yang alim dan sederhana itu justru sering menyebut-nyebut orangtua dan gurunya? Bukankah kita dianjurkan untuk tidak menggantungkan diri pada kemuliaan orang lain? Sahal berspekulasi, mungkin hal itu dilakukan Gus Baha sebagai pengingat bagi dirinya agar selalu menjaga marwah dan kehormatan orangtua dan guru.
Kita tentu dapat membuat hopotesis lainnya, mengapa seseorang suka mengaitkan dirinya dengan tokoh-tokoh terdahulu. Dosen saya yang mengajar Filsafat Islam, (alm) Prof Dr M Zurkani Jahja, pernah menceritakan tentang filosof Muslim asal Spanyol, Ibnu Thufail. Menurutnya, salah seorang guru Ibnu Thufail adalah Ibnu Bajah, seorang filosof juga. Tokoh ini kurang terkenal, antara lain karena sikapnya yang anti-kemapanan sehingga tidak disukai oleh banyak ulama dan cendekiawan. Namun, Ibnu Thufail justru menyebut-nyebut nama tokoh ini dalam fiksi-filosofisnya yang terkenal, Hayy Ibn Yaqzhân. Akibatnya, berkat ketenaran Ibnu Thufail, Ibnu Bajah pun ikut tenar pula.
Selain hormat pada Ibnu Bajah, ketika sudah tua Ibnu Thufail juga mempromosikan muridnya, Ibnu Rusyd, kepada sultan, untuk menggantikannya sebagai dokter dan filosof istana. Kita pun tahu, Ibnu Rusyd kelak jauh lebih hebat dan terkenal dibanding gurunya sendiri. Namun, bagaimanapun hebatnya Ibnu Rusyd, dia tentu takkan pernah bisa lupa akan jasa gurunya, Ibnu Thufail. Di sisi lain, bagi seorang guru, melihat muridnya berhasil dan menjadi orang besar tentu merupakan kebahagiaan dan kebanggaan. Konon, guru yang hebat adalah yang berhasil mendidik murid yang lebih hebat daripada dirinya. Itulah kiranya yang hadir dalam benak Ibnu Thufail.
Demikianlah hubungan guru-murid yang ideal. Yang musykil barangkali, seperti yang diutarakan oleh Hamzah Sahal, adalah menyebut-nyebut orangtua sebagai kebanggaan. Dalam kasus Gus Baha, kemusykilan ini lebih mudah diurai karena ayahnya adalah juga gurunya. Jadi ada mata rantai atau sanad keilmuan yang menghubungkan keduanya, bukan sekadar pertalian darah. Sudah maklum, membanggakan diri semata-mata karena pertalian darah cenderung tercela. Seperti sajak yang dihafal di pesantren, laisa al-fatâ man yaqûlu kâna abî, wa lâkinna al-fatâ man yaqûlu hâ anâ dzâ (Bukanlah pemuda orang yang berkata, ‘Ayahku adalah’, tetapi orang yang berkata, ‘Inilah aku’).
Alqur’an banyak membicarakan hubungan pertalian darah orang-orang saleh. Dalam QS 3:33 disebutkan, Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di atas umat lainnya. Dari keturunan Ibrahim dan Imran, ada nabi-nabi dan orang-orang saleh. Namun, Alqur’an juga menceritakan bahwa Azar, ayah Nabi Ibrahim, adalah ‘musuh’ Allah (QS 9:114). Begitu pula, Kan’an, anak Nabi Nuh, justru tidak percaya pada kerasulan ayahnya dan menolak ikut serta dalam bahtera sang ayah sehingga turut tenggelam dalam banjir besar ketika itu. Tuhan bahkan berfirman kepada Nabi Nuh, “Sesungguhnya dia bukan keluargamu. Perbuatannya sungguh tidak baik” (QS 11: 46).
Dari cerita Alqur’an di atas kita dapat menyimpulkan bahwa faktor keturunan memang berpengaruh terhadap diri seseorang. Hal ini tentu logis belaka. Bagaimanapun, kehidupan seseorang dimulai dari keluarga. Anak yang dididik dalam keluarga yang baik, yang berbudi pekerti luhur dan taat beragama tentu berbeda dengan anak yang tumbuh dalam keluarga yang amburadul. Di sisi lain, manusia sebagai pribadi tetaplah agen yang bebas, yang bertanggung jawab atas pilihan moralnya. Keturunan siapa pun dirimu, kau adalah dirimu sendiri, baik-buruk adalah pilihanmu sendiri. Jangan bawa-bawa nama orangtua atau leluhurmu. “Apakah ketika kamu makan kenyang, orangtuamu otomatis kenyang?” Ledek Al-Ghazali terhadap orang yang suka membanggakan orangtuanya.
Di sisi lain, kebanggaan pada nasab atau garis keturunan dapat diterima jika berdasarkan alasan hubungan keilmuan dan kemuliaan akhlak. Kebanggaan ilmu dan akhlak adalah beban moral, yang harus ditanggung oleh anak keturunan seseorang yang mulia. Puteri Bung Hatta, Meutia Hatta, suatu hari pernah berkata bahwa ayahnya mengingatkan, kehormatan terpenting yang harus dijaga oleh keluarganya adalah integritas, kejujuran. Karena itu, sangat memalukan jika ada keturunan Hatta yang korupsi. Begitu pula dengan Gus Baha, yang dididik ayah dan gurunya agar menjadi orang alim yang hidup sederhana. Gus Baha tentu akan malu jika ternyata dia bodoh dan cinta dunia.
Selain itu, faktor nasab memang tidak sekadar soal moral, melainkan juga sistem sosial. Masyarakat kita dalam batas tertentu masih feodalistik dan komunal. Seseorang masih sering dilihat dari asal usulnya: anak siapa, keluarga siapa, organisasi apa, bahkan etnis apa, ketimbang sebatas keahlian dan karakternya saja. Di sisi lain, masyarakat kita juga berada dalam sistem kapitalis-neoliberal. Persaingan memperebutkan sumber-sumber ekonomi dan politik sangat ketat. Dalam persaingan ini, orang-orang yang sejak lahir memiliki keistimewaan (privilege) sebagai anak pejabat, anak orang kaya, anak kiai dan seterusnya, tentu lebih siap bersaing dibanding orang-orang dari kelas bawah.
Namun, seperti kata HAMKA, orang biasa justru memiliki peluang untuk menjadi orang pertama sebagai sosok yang dibanggakan dalam keluarganya. Keunggulan ilmu dan kemuliaan akhlaknya dapat menjadi kebanggaan sekaligus tanggungjawab moral bagi anak keturunannya. Tantangan bagi kita adalah, seberapa terbuka sistem sosial dan budaya kita untuk orang-orang biasa sehingga mereka dapat menaiki tangga sosial dengan lebih leluasa? Sudah adilkah sistem sosial kita? (*)
