Opini Publik
Meme Sebagai Kekuatan Politik Baru
Salah satu bentuk baru dalam partisipasi politik di ruang digital adalah kehadiran ‘meme’ politik.
Peneliti Komite Independen Sadar Pemilu (KISP): Muhammad Iqbal Khatami
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kehadiran media digital cukup banyak merubah lanskap partisipasi publik dalam sebuah konstelasi demokasi.
Meluasnya obrolan politik di ruang digital mendorong adanya diversifikasi bentuk konten politik di ruang publik – jika dalam media konvensional formal dan kaku – maka dalam media digital cenderung lebih cair dan bebas.
Salah satu bentuk baru dalam partisipasi politik di ruang digital adalah kehadiran ‘meme’ politik.
Istilah meme pertama kali diperkenalkan oleh Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul “The Selfish Gene” pada tahun 1976. Dawkins berpendapat bahwa meme adalah bentuk transmisi budaya yang melibatkan replikasi ide, gagasan, atau konsep yang mempengaruhi pemikiran manusia.
Fenomena meme yang cukup berpengaruh terhadap kontestasi demokrasi adalah ketika sebuah koran asal inggris, Independent, pada 12 September 2016 menulis artikel tentang “Bukan isu kesehatan, tapi Meme, yang membuat Hillary Clinton akhirnya kalah dalam pemilihan umum Presiden.”
Independent memberikan argumen bahwa era komunikasi politik telah berubah. Betapa meme menjadi senjata ampuh pada Pemilu Presiden di Amerika Serikat pada waktu itu.
Latar belakang artikel tersebut adalah menanggapi kemunculan meme yang menghobahkan pada waktu itu, dengan judul “Happy Bill, Bill Clinton: suami Hillary Clinton, Presiden Amerika Serikat 1993-2001.”
Dalam meme tersebut, tergambar wajah Bill Clinton sedang tertawa lepas dengan keterangan kutipan “Baru menyadari Jika Hillary Menang, Saya Bisa Mempekerjakan Kembali Seorang Intern (pemagang).”
Meme tersebut seketika menjadi senjata ampuh yang membuka kembali memori publik terkait kasus internship, pekerja magang Bill Clinton, bernama Monica Lewinsky, yang diduga terlibat kasus love affairs dengan Presiden Bill Clinton, yang membuat suami Hillary Clinton ini hampir dipecat sebagai presiden.
Meme tersebut bekerja secara efektif: ringkas, jenaka tapi merusak citranya.
Kasus tersebut menjadi cikal bakal bagaimana Meme masuk ke dalam dunia politik.
Ada banyak meme yang beredar kala itu dan digunakan sebagai senjata kampanye masing-masing calon presiden.
Contoh lainnya adalah banyaknya meme Donald Trump yang turut menjadi objek jenaka banyak pihak. Hal tersebut membuat para kandidat tidak bisa lagi mengabaikan pesan yang terkandung dalam Meme yang telah mampu memengaruhi opini pemilih.
Meme telah menjadi genre baru komunikasi politik, khususnya dalam ranah digital.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Peneliti-Komite-Independen-Sadar-Pemilu-KISP-Muhammad-Iqbal-Khatami.jpg)