Opini Publik

Stop Perundungan di Dunia Pendidikan

Sekolah dan kita kalangan pendidik, malah alpa dalam mengontrol bullying atau perundungan di kalangan pelajar

Editor: Hari Widodo
Dok BPost Cetak
Muh Fajaruddin Atsnan Dosen UIN Antasari Banjarmasin. 

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan Dosen UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - DUNIA pendidikan kembali bermuram durja. Seorang siswa kelas X di SMAN 7 Banjarmasin, tega menikam teman sekelasnya dengan senjata tajam, lantaran sakit hati, akibat sering dibully (31/7/2023).

Kejadian yang membuat geger manakala sering “razia” handphone, maupun rambut, sepatu, atau kelengkapan pakaian seragam. Tetapi, sekolah dan kita kalangan pendidik, malah alpa dalam mengontrol bullying atau perundungan di kalangan pelajar.

Masih merebaknya perilaku menyimpang yang dilakukan anak-anak kita, terutama kasus perundungan, meliputi bentuk kekerasan di sekolah, mengalahkan tawuran pelajar, diskriminasi pendidikan, ataupun aduan pungutan liar, di mana ironisnya guru (masih) ikut dalam mem-bully anak didiknya, menunjukkan ada something wrong pendidikan kita.

Banyak faktor yang diduga menjadi penyebabnya, tidak hanya dikarenakan lemahnya pengawasan (kontrol) orang tua, guru dan pihak sekolah, tetapi juga dari faktor eksternal lain misalnya banyaknya tayangan televisi yang “tak ramah” ditonton oleh anak-anak.

Teledor

Di setiap kejadian perundungan, salah satu pihak yang diminta bertanggung jawab adalah guru atau sekolah. Kelengahan atau pun keteledoran guru dalam memperhatikan perkembangan pendidikan anak ketika di sekolah, menjadi salah satu penyebab adanya celah ini.

Sebenarnya tidak hanya guru yang diminta mengoptimalkan internalisasi semangat tanggung jawab dan kewajiban terhadap anak, tetapi dalam masalah perundungan terutama perihal tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah, diperlukan sistem pencegahan yang melibatkan seluruh komponen dan elemen sekolah.

Mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, sampai petugas keamanan dan cleaning service.

Peristiwa kekerasan terhadap anak di sekolah, yang tak jarang yang berujung maut, memerlukan sistem pencegahan dini yang komprehensif.

Menciptakan suasana, iklim sekolah yang aman dan nyaman bagi anak, memantau dan peduli terhadap perilaku anak secara berkelanjutan, serta melakukan pendataan sekaligus bimbingan konseling terhadap anak yang bermasalah dengan kekerasan beresiko tinggi, dapat dilakukan seluruh civitas sekolah untuk meminimalisir tindak bullying di sekolah.

Faktor keteladanan dari guru dan mengintensifkan pendidikan agama terutama mengenai pendidikan akhlak perilaku terpuji bisa diselipkan pada saat proses pembelajaran.

Tayangan yang mendidik

Rasanya tidak etis jika di setiap kejadian kekerasan anak di sekolah, lantas hanya mengkambinghitamkannya sebagai akibat keteledoran guru dan pihak sekolah dalam memantau perilaku anak. Namun, perlu diingat bahwa faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak, tidak hanya tanggung jawab sekolah.

Orang tua, masyarakat dan pemerintah punya andil sebagai cek and balance terhadap maraknya tayangan yang mengeksploitasi kekerasan. Kondisi yang melahirkan sifat permisif terhadap kekerasan pada diri anak, dan meneladankan penyelesaian masalah dengan cara kekerasan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved