Fikrah

Ciri Masyarakat Jahiliah

ZAMAN di mana Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan dibangkitkan disebut zaman Jahiliah. Secara harfiah, jahiliah berasal dari kata “jahl”; artinya bodoh

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - ZAMAN di mana Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan dibangkitkan disebut zaman Jahiliah. Apakah arti jahiliah? Secara harfiah, jahiliah berasal dari kata “jahl”; artinya bodoh, tidak tahu.

Terpengaruh oleh pengertian harfiah ini maka timbullah image bahwa Nabi Muhammad SAW bertugas dengan hanya menghadapi orang-orang yang tidak berperadaban dan tidak berpendidikan.

Agama yang dibawanyapun tentu hanyalah diperuntukkan buat orang-orang yang tidak berperadaban.

Berbeda sekali dengan Nabi Musa AS, dia harus berhadapan dengan bangsa Mesir (Egypt) yang berperadaban tinggi dan maju, dimana mereka pandai main sihir. Karenanya Nabi Musa diberikan mukjizat mengalahkan sihir.

Berbeda pula dengan Nabi Isa AS, yang menghadapi bangsa Grik yang memiliki kemajuan berfikir luar biasa, memiliki disiplin berbagai ilmu; maka kepada Nabi Isa pun diberikan kepandaian mengobati orang-orang sakit.

Sebenarnya bangsa Arab pada waktu itu bukanlah orang-orang yang tidak dijamah oleh peradaban atau terisolir seperti yang diperkirakan.

Mereka adalah pengembara yang bertualang ke Utara (Syam) di musim panas dan ke Selatan (Yaman) di musim dingin. Seperti yang dilukiskan oleh Al Qur’an yang artinya “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan pada musim panas.” (QS. Quraisy 1-2).

Mustahil orang-orang yang bepergian keluar negeri kalau tidak membawa pengaruh ke dalam negerinya, karena mereka mesti terpengaruh dengan apa yang dilihat dan dialaminya di negeri lain.

Memang pada masa itu buta huruf (ummi). Namun hal ini bukan berarti kepandaian tulis menulis sama sekali tidak ada pada mereka. Setiap tahun diadakan keramaian tahunan yang disebut “Souq Ukkaaz” dimana para penyair bertanding kebolehan bersyair.

Kabilah-kabilah bangsa Arab berkumpul selama dua puluh hari pada bulan Zulqaidah setiap tahunnya. Syair yang terbaik digantung di sisi Ka’bah.

Sementara itu adanya kebiasaan mengirim anak ke desa-desa untuk disusukan dan dipelihara oleh penduduk udik (badwi) menunjukkan bahwa kehidupan di kota sudah terjamah berbagai unsur asing disatu pihak; dipihak lain mereka menginginkan agar pertumbuhan anak tetap baik, karena di desa-desa kehidupan masih tetap bersih dari pengaruh asing.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Jahiliah? Jahiliah adalah suatu kondisi dan tatanan masyarakat yang terjadi pada bangsa Arab sebelum kedatangan agama Islam atau sebelum dibangkitkannya Nabi Muhammad SAW.

Kondisi dan tatanan masyarakat seperti ini bisa terjadi dan terulang kapan dan di manapun, tidak tergantung pada masa dan tempat tetapi tergantung kepada kondisi dan tatanan masyarakat itu sendiri.

Dr Syauqi Dhaif, salah satu tokoh pembaharu Nahwu dari Mesir, menerangkan ada beberapa ciri masyarakat Jahiliah. Pertama, bermabuk-mabukan dengan minuman keras.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved