Fikrah
Membarakat Barakah
Apabila seseorang ingin mendapatkan berkah dalam hidupnya, hendaklah ia mendekatkan diri kepada Pemilik alam raya ini, itulah Allah SWT.
Oleh: KH Husin Naparin, Lc, MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMAISN - Barakah berasal dari Bahasa Arab yang artinya kenikmatan dan kebahagiaan.
Kata ini di Indonesiakan menjadi berkat, namun sering disebut berkah.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan : “berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan hidup manusia.”
Bila ada kenduri, lalu di antara tamu ada yang diberikan makanan tambahan untuk dibawa pulang, itu bisa disebut berkat, dalam bahasa Banjar disebut “mambarakat”.
Dapat dimengerti bahwa berkat adalah tambahan dari jatah yang semestinya.
Tidak semua orang mendapat berkah atau diberi berkah.
Mereka yang mendapat berkah atau diberi berkah hanyalah tamu-tamu dekat saja.
Dapat diambil analogi bahwa apabila seseorang ingin mendapatkan berkah dalam hidupnya, hendaklah ia mendekatkan diri kepada Pemilik alam raya ini, itulah Allah SWT.
Tersebutlah kisah tenggelamnya dunia yang dilanda banjir besar akibat kemaksiatan manusia pada masa Nabi Nuh AS.
Ketika itu umat menolak untuk beriman kepada Allah SWT, bahkan mengolok-olok seruan Nabi Nuh AS. Alkisah, sebelum banjir besar itu datang.
Nabi Nuh AS diperintahkan untuk membuat sebuah kapal besar dari kayu, bertingkat-tingkat.
Kapal itu cukup memuat umat beriman sekitar 80 orang dan sejumlah hewan sepasang-sepasang; ada hewan ternak jinak seperti kuda, keledai dan kambing.
Ada juga hewan liar dan buas seperti harimau, beruang dan macan.
Ada segala jenis unggas dan burung seperti merpati, ayam dan itik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ketua-MUI-Kalimantan-Selatan-KH-Husin-Naparin-jumat-28072023.jpg)