Tajuk
Jangan Tunggu Korban Jiwa
Bangunan SD yang rusak di Banjarmasin sebanyak 1.258, dan 516 SMP. Asumsinya, jumlah sekolah yang rusak di Kalsel tentu lebih besar
BANJARMASINPOST.CO.ID - Beberapa waktu lalu BPost menurunkan liputan mengenai rusaknya sarana belajar di Banjarmasin. Jumlahnya ternyata cukup besar, total mencapai ribuan. Bangunan SD yang rusak sebanyak 1.258, dan 516 SMP.
Hingga kini kerusakan tersebut masih terus didata serta diklasifikasi. Prasana akan diperbaiki pada tahun anggaran mendatang, dengan total miliaran rupiah. Itu baru di Banjarmasin. Asumsinya total seluruh Kalimantan Selatan (Kalsel) tentu lebih banyak lagi sekolah yang rusak atau bahkan tak layak.
Dan ini terbukti. Insiden terjadi di SMPN 3 Batibati, Desa Lianganggang, Kecamatan Batibati, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Senin (28/8/2023) sekitar pukul 10.30 Wita. Plafon satu ruang kelas tujuh mendadak runtuh.
Dua pelajar yakni Siti Fatimah Hilwa dan Evita Indira tertimpa plafon dari bahan papan partisi dengan rangka baja ringan itu.
Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kegiatan belajar mengajar pun bisa dilanjutkan dengan dialihkan ke kelas yang lain.
Kasus tersebut berawal dari kerusakan dari sisi struktur bangunan. Itu belum termasuk bila dihitung kasus kebakaran sebagaimana terjadi pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 Tapin, yang mengakibatkan tiga ruang kelasnya terbakar.
Termasuk ancaman karhutla terhadap sekolah sebagaimana di belakang SMAN di Desa Padangluas, Kecamatan Kurau, Tala, beberapa waktu lalu.
Kasus serupa diharap tak lagi terjadi di masa mendatang dan jangan sampai menunggu ada korban baru viral atau jadi perhatian.
Dan dari kasus ini pula bisa dilihat betapa besar dan kompleksnya persoalan di bidang pendidikan.
Mulai dari kesejahteraan dan kurangnya tenaga guru, kasus bullying, kurikulum yang berganti-ganti, ketersediaan buku ajar, pungli, PPDB, fasilitas sekolah dan lain sebagainya.
Balik lagi mengenai kerusakan bangunan sekolah, rasanya terlalu naif bila pemerintah membiarkan itu terjadi hanya dengan alasan belum parah. Kita tidak tahu kapan musibah itu datang.
Klasifikasi kerusakan ringan, sedang dan berat yang dipakai untuk menentukan skala priotitas, apakah cukup? Atau mundur sedikit. Sudahkan SMPN 3 Batibati ditinjau dan didata kerusakannya sebelum peristiwa ini terjadi? Sudahkan kerusakan yang terjadi selama ini dilaporkan? Banyak pertanyaan yang melekat pada kasus ini.
Tapi pastinya, melihat kompleksnya persoalan di bidang pendidikan, peran serta masyarakat juga diperlukan. Lingkungan serta Komite Sekolah dalam kasus semacam ini juga bisa proaktif dan ikut membantu sekolah, mendorong dinas pendidikan bertindak.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Tajuk-Mudik-Bijak.jpg)