Hari AIDS Sedunia 2023
Di 2024 Bakal Ada Layanan HIV di Puskesmas Serongga Kotabaru
Puskesmas Serongga pada 2024 nanti akan ada layanan HIV, ini kata pihak Dinas Kesehatan Kotabaru
BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Kasus HIV/AIDS terus meningkat dan menyebar di Kalimantan Selatan. Peringatan Hari AIDS Sedunia 2023 pada Jumat (1/12) diharapkan dapat mengingatkan kembali warga Kalsel untuk mengatasi penyebaran virus penurunan kekebalan tubuh dan menangani penderita gangguan kesehatan akibat melemahnya sistem imunitas.
Berdasarkan data yang didapat BPost, belum setahun jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) baru pada 2023 sudah 705.
Analis Penyakit Menular yang juga Pengelola Program HIV/AIDS pada Dinas Kesehatan Kotabaru Ardiansyah SKM mengatakan sejak 2012 sampai Oktober 2023 ada 116 pengidap HIV/AIDS di kabupaten ini. Mereka tersebar di beberapa kecamatan. Terbanyak di Pulaulaut Utara yakni 22 orang.
Untuk menanggulangi penyakit ini, Ardiansyah mengatakan Dinkes Kotabaru terus melakukan skrining pada populasi berisiko seperti bumil (ibu hamil), penderita TB, penderita IMS, warga binaan permasyarakatan dan populasi kunci lain termasuk pekerja tempat hiburan malam.
Baca juga: RSUD H Damanhuri Barabai Tangani Ratusan Pasien HIV/AIDS, Tercatat 29 Pasien Meninggal Dunia
Baca juga: Update Kebakaran di Jorong Tanahlaut, Kades Sebut Korban Tak Mengungsi, Ini Penyebabnya
Selain upaya menekan, dilakukan pengobatan gratis bagi penderita HIV. Penjangkauan layanan pemeriksaan melalui mobile test HIV ke titik hotspot populasi kunci HIV (THM, Lokalisasi, dan lain-lain). Sinergitas kemitraan dengan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), perusahaan dalam sosialisasi dan pemeriksaab test HIV.
“Tahun 2024 Dinkes akan membentuk Puskesmas Layanan HIV di Puskesmas Serongga, dalam upaya mendekatkan akses pemeriksaan dan pengobatan pada masyarakat. Untuk saat ini layanan pengobatan masih terpusat di RS PJS Kotabaru,” ujarnya.
Menyinggung ketersediaan obat, ditegaskan Ardiansyah, terjamin untuk semua penderita. Untuk saat ini, obat didistribusikan melalui RS PJS Kotabaru.
“Tahun depan baru kita dekatkan ke daerah seberang. Yaitu Puskesmas Serongga,” jelas Ardiansyah.
Sementara ini ada 65 pasien yang rutin setiap bulan mengambil obat secara gratis di rumah sakit.
Pengobatan berlaku seumur hidup. “Jadi, selama orangnya masih hidup orangnya akan terminum obat. Untuk obatnya, jenisnya antiratrovirus (obat HIV),” pungkasnya.
Sementara itu ada 80 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tabalong yang tak lepas dari pembinaan Dinkes setempat.
Melalui tim pengelola HIV pada masing-masing Puskesmas, para penderita HIV terus diperhatikan dan diingatkan untuk selalu mengambil obat untuk pengobatan. Biasanya para penderita mengambil obat secara rutin ke RSUD dan RS Ansari Saleh Banjarmasin untuk kontrol diperiksa jumlah CD4 dan viral load dalam darah pasien untuk menentukan kemajuan pengobatan.
“Pengobatan HIV menggunakan anti retroviral/ARV yang saat ini pasien atau keluarga mengambil ke RSUD, ada juga yang langsung RS Ansari Saleh Banjarmasin,” terang Kepala Dinkes Tabalong Taufiqurrahman Hamdie, Jumat (1/12).
Dibeberkannya, rata-rata penderita HIV/AIDS di Tabalong disebabkan hubungan seks beresiko, sering berganti pasangan, ibu rumah tangga dari suami yang positif HIV, dan bayi dari ibunya yang positif HIV lalu tertular melalui janin.
Terhadap bayi ini pun kata Taufiq, pengobatan juga dilakukan dan si bayi sejak lahir sudah ketergantungan obat.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.