Tajuk

Mengantisipasi Memanasnya Timteng

ISRAEL kembali menyerang Iran, Jumat (19/4). Ini tentu makin memanaskan kawasan Timur Tengah (Timteng). Padahal Pemerintah Teheran

Editor: Edi Nugroho
Istimewa
Ilustrasi: Rudal-rudal balistik Iran diluncurkan dalam Operasi Janji Setia. Sejumlah rudal disebut mampu menembus pertahanan Israel yang dikombinasikan dengan arhanud Amerika Serikat. 

ISRAEL kembali menyerang Iran, Jumat (19/4). Ini tentu makin memanaskan kawasan Timur Tengah (Timteng). Padahal Pemerintah Teheran telah memperingatkan Tel Aviv agar tidak melakukannya pascaserangan Iran ke Israel pada Sabtu (13/4).

Iran membombardir Israel karena melakukan serangan terhadap Konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada Senin (1/4). Serangan itu menewaskan dua jenderal Iran.

Melihat serangan terbaru Israel, tentu Iran tidak akan tinggal diam. Terlebih pemerintah Iran telah mendapat dukungan dari parlemen dan rakyatnya. Dukungan juga datang dari sejumlah negara sahabat seperti Cina dan Rusia.

Amerika Serikat dan sekutu Eropanya tentu juga tidak akan tinggal diam melihat Israel bakal dikeroyok.

Baca juga: Geliat Ekstra Instruktur Senam Tanahlaut, Perempuan Ini Rela Kafenya Jadi Ajang Tempa Atlet

Baca juga: Dukung Program Kendaraan Listrik, PLN Kalselteng Tambah 35 SPKLU

Persoalan antara Israel dan Palestina sudah tidak lagi antarkeduanya. Tidak lagi hanya berdampak terhadap negara-negara yang berbatasan. Tidak lagi hanya perang pernyataan dan narasi.

Yaman telah berulang kali menyerang kapal yang berhubungan dengan Israel dan lewat di Laut Merah untuk menuju Terusan Suez Mesir. Padahal negara yang kini dijalankan oleh Houthi tersebut tidak berbatasan langsung dengan wilayah Israel dan Palestina. Demikian pula Iran.

Kondisi ini patut diantisipasi oleh Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Jumat, mengungkapkan kekhawatirannya atas meningkatnya konflik di Timteng.

Serangan Israel ke Iran berefek pada melonjaknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah acuan Brent melejit 3,5 persen ke 90,14 dolar AS per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 3,61 persen ke 85,80 dolar AS per barel.

Namun Arifin menyatakan pasokan minyak dan gas (migas) ke Indonesia masih aman. Stok pun cukup untuk 17–30 hari ke depan. Kendati demikian dia memerintah Pertamina untuk melakukan antisipasi.

Kondisi ini diperparah dengan langsung turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar 81 pion atau0,5 persen. Pada penutupan perdagangan, Jumat, rupiah berada di level Rp 16.260 per dolar AS. Kondisi serupa dialami mata uang sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Filipina dan Thailand.

Walaupun persoalan konflik di Timteng akan sangat berdampak terhadap perekonomian dalam negeri, Indonesia harus tetap memegang teguh prinsip membela Palestina. Ini karena telah diamanatkan oleh Undang Udang Dasar 45 bahwa, “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”.

Saat ini rakyat Palestina menderita karena dijajah oleh Israel. Selain itu kita perlu ingat sejarah bahwa rakyat Palestina telah mendukung Indonesia saat melawan penjajah. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved