Tajuk
Cermat Memilih Panutan
KETUA Umum Partai NasDem Surya Paloh memutuskan sikap mendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka
BANJARMASINPOST.CO.ID - KETUA Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh memutuskan sikap mendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Keputusan itu disampaikannya saat berkunjung ke kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2024).
Sikap Surya Paloh tersebut sebenarnya sudah terlihat beberapa waktu lalu. Di antaranya saat dia menerima kedatangan calon presiden nomor urut 2 tersebut di Nasdem Tower.
Penerimaan Surya Paloh langsung mendapat tanggapan berbagai kalangan karena kubu pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, yang diusungnya, tengah berjuang di Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka tengah menggugat kecurangan pemilihan presiden.
Tidak hanya Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dipimpin Muhaimin Iskandar juga diisukan bakal merapat ke kubu Prabowo-Gibran.
Jika terjadi, ini bukan hal yang aneh. PKB dan Nasdem sebelumnya adalah rekan koalisi pemerintahan Joko Widodo, ayah Gibran.
Tidak ada lawan dan kawan yang abadi dalam perpolitikan. Hal ini sebenarnya sudah mulai disadari masyarakat.
Namun jika itu terjadi begitu cepat, tentu sangat miris melihatnya. Terlebih bagi masyarakat pendukung.
Mereka berjuang, bahkan kadang harus bertengkar dengan tetangga dan teman, ternyata di atas telah berteman dengan lawan.
Tidak konsisten, tidak punya prinsip, bahkan kata pengkhianat kerap dilontar masyarakat kepada politisi yang dengan mudah berubah arah.
Pengusaha lebih sadar dengan budaya para politikus Indonesia. Makanya mereka kerap bersikap dua kaki atau bahkan tiga kaki.
Posisi paling tidak enak ditempati pegawai pemerintahan. Mereka kerap harus mendukung petahana. Namun ini pun berisiko jika ternyata pemenang pemilihan adalah calon lain.
Makanya jangan heran jika sekarang aparatur sipil negara (ASN) pun berpolitik. Padahal ada aturan yang menyatakan ASN tidak boleh memihak. Mereka harus netral.
Malah, sekarang banyak ASN yang berpolitik praktis. Mereka dengan terang-terangan mencalonkan diri sebagai peserta pemilihan umum.
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Komisi ASN pada tutup mata. Namun dari semua kalangan tersebut, masyarakat bawahlah yang paling kasihan.
Mereka ditinggalkan politikus, kurang dianggap penting oleh pengusaha yang lebih banyak bergantung pada politikus dan tidak mendapatkan pelayanan dari ASN yang berpolitik. Oleh karena itu masyarakat kecil harus semakin cermat dalam memilih pemimpin dan panutan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Tajuk-Mudik-Bijak.jpg)