Kolom
Cak Nur di Sarawak
inilah pembicaraan antara penulis yakni Mujiburrahman dengan Haji Bulhasan Makruf keturunan India Muslim di Kuching
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - SUBUH yang dingin, 3 Juni 2024. Saya dijemput oleh seorang tokoh Muslim Sarawak berdarah Banten, Haji Bahruddin bersama menantunya, untuk Salat Subuh berjemaah di Masjid India yang juga disebut “masjid terapung” di Kuching.
Usai salat, saya dikenalkan dengan seorang tetua dan pengusaha sukses bernama Haji Bulhasan Makruf, keturunan India Muslim yang taat. Setelah bersalaman, kami diajak sarapan roti canai di kedai yang dikelola anak beliau.
Sambil menikmati sarapan, Haji Bulhasan berbagi banyak cerita. Ketika masih muda di awal 1980-an, dia berkunjung ke Jepang. Ketika itu dia berangkat dari Nagoya ke Tokyo, naik kereta beberapa kali. Karcis masuk kereta harus dibeli setiap kali ganti kereta, tetapi tidak ada orang yang memeriksa.
Anehnya, semua orang Jepang tetap membeli karcis yang diperlukan. “Mengapa Anda membeli karcis, padahal tidak ada yang memeriksa?” tanya Pak Haji. “Jika perusahaan kereta ini untung, maka layanannya nanti akan meningkat. Kalau bangkrut, nanti akan tutup. Kita semua akan rugi,” katanya.
Setelah tua, Pak Haji bersama anak-cucunya kembali berkunjung ke Jepang. Sungguh tak disangka, mereka mengalami gempa yang berpotensi tsunami. Pada saat itulah, Pak Haji sangat terkesan dengan sikap orang Jepang yang tidak panik, tenang-tenang saja.
Ketika para korban bencana diungsikan, datanglah bantuan air minum untuk mereka. Ternyata, setelah dibagikan, air itu tidak cukup. Masih banyak yang belum kebagian. Sadar akan hal ini, mereka yang sudah mendapatkan air tadi dengan sukarela berbagi dengan mereka yang belum dapat.
“Menurut saya, seharusnya orang Islam akhlaknya seperti orang Jepang itu,” kata Pak Haji Bulhasan. Kami semua mengangguk tanda setuju. Kita memang sering merasakan apa yang dirasakan Pak Haji, saat menyaksikan kebaikan akhlak manusia di muka bumi ini. Islam sebagai ajaran itu indah, tetapi dalam kenyataan, perilaku Kaum Muslim tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam. Ungkapan serupa pernah dikemukakan oleh Muhammad Abduh: al-Islâm mahjûbun bi al-muslimîn, kebaikan Islam ditutupi oleh perilaku umat Islam sendiri.
Saya jadi teringat ungkapan Premier (kepala negara bagian) Sarawak, Datuk Patinggi Tan Sri Abang Haji Abdul Rahman Zohari bin Tun Datuk Abang Haji Openg, saat membuka musayawarah besar lembaga dakwah bernama Hikmah, Ahad, 2 Juni 2024. Dia katakan, kaum Muslim (Melayu) adalah minoritas di Sarawak (sekitar 30 persen), tetapi dipercaya menjadi pemimpin negeri itu lebih dari 50 tahun (sejak 1970-an). Mengapa? Karena para pemimpin itu, katanya, berusaha berlaku adil kepada semua golongan etnis dan agama. Islam harus mengabdi pada kesejahteraan manusia tanpa diskriminasi.
Karena itu, dia mendukung pengembangan lembaga dakwah non-pemerintah seperti Hikmah. Dia membantu pembangunan gedung Hikmah Technological College disingkat “Hitech” dan proses perizinannya. Menurutnya, kaum Muslim harus menguasai ilmu-ilmu keislaman sekaligus sains dan teknologi. Dengan begitu, Islam akan bermanfaat bagi kemanusiaan. Kaum Muslim harus sadar akan dua tantangan besar saat ini: perubahan iklim dan kelangkaan pangan. “Jangan hanya mendidik anak-anak muda bisa jadi imam. Kalau semua jadi imam, siapa yang jadi makmum?” katanya bercanda.
Sarawak memiliki sejarah yang unik. Semula pernah di bawah Majapahit. Seiring jatuhnya Majapahit pada abad ke-15, Sarawak menjadi bagian dari kesultanan Brunei. Pada 1841, Raja Muda Hashim meminta bantuan James Brooke, orang Inggris dan tentara VOC, untuk menumpas para pemberontak di Sarawak.
Brooke berhasil, dan sebagai hadiah, diangkat menjadi Raja Sarawak. Dinasti Brooke berkuasa hingga seabad (1841-1941). Kemudian datang Jepang, yang berkuasa pada 1941-1945. Setelah itu datang lagi Inggris. Akhirnya pada 1963 Sarawak merdeka, bergabung dengan Malaysia.
Prof. Koo Kay Kim menulis pada 1984 bahwa “Di Sarawak sekarang, jumlah orang Iban merupakan yang terbesar, diikuti oleh Cina. Dibandingkan dengan dua kelompok ini, orang Melayu adalah yang terkecil. Namun, sejak masa rezim Brooke, orang-orang Melayu menikmati kedudukan tinggi di masyarakat Sarawak.
Mereka adalah orang-orang yang paling terpelajar, paling vokal dan yang pertama aktif dalam kegiatan politik” (Said 2010: xi). Boleh dikatakan, identitas Melayu identik dengan Islam. Karena itu tak heran jika sampai sekarang orang Islam berkuasa di pemerintahan.
Saya pun jadi teringat pada Indonesia. Pada awal 1970-an, Nurcholish Madjid (Cak Nur) menyerukan orientasi politik baru bagi umat Islam: “Islam Yes, Partai Islam, No”. Mungkin ini mirip dengan saran Wakil Presiden Pertama, Mohammad Hatta, tentang politik garam versus politik gincu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman.jpg)