Tajuk
Prihatin Gangster
Aksi remaja berkelompok yang diidentikkan dengan istilah gangster belakangan viral di media sosial. Mereka konvoi sambil membawa senjata tajam
BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebelas anak di bawah umur diringkus Polresta Banjarmasin pada Rabu (19/6) dini hari, setelah video mereka sedang konvoi dengan sepeda motor sambil membawa senjata tajam beredar di media sosial dan jadi viral.
Sebelumnya, aksi serupa di kawasan Jalan Trikora, Banjarbaru juga viral. Sekelompok remaja bersenjata tajam membuat resah warga. Polisi pun menangkap mereka dalam waktu yang tidak lama. Sebagian besar anak di bawah umur. Ada yang masih berstatus pelajar, ada pula yang sudah putus sekolah. Mereka berasal dari Banjarbaru dan Banjar.
Aksi remaja berkelompok yang bikin resah ini pun diidentikkan dengan istilah gangster. Aksi ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Kekerasan dalam bentuk tawuran antarkelompok remaja sudah lama terjadi, termasuk di Surabaya pada 2019 silam. Bahkan juga terjadi di kota-kota besar lainnya, seperti Bandung, Surabaya, Depok, Jakarta hingga Tangerang.
Nah, maraknya fenomena ‘gangster’ di sejumlah kabupaten kota di Kalsel pun menarik dicermati sekaligus menjadi keprihatinan bersama. Gangster sendiri merujuk pada anggota organisasi kriminal yang berhubungan dengan mafia.
Dalam kehidupan masyarakat, membentuk suatu kelompok geng memang dipandang negatif, karena biasanya terdapat kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat.
Merujuk pada penjelasan Dosen Psikologi FIP Unesa, Nurchayat, anak-anak muda secara psikologis ada di fase sedang mencari jati diri. Mereka ingin dianggap dewasa atau ingin diakui eksistensinya. Penyaluran energi dan eksistensi mereka tentu perlu ada wadah yang positif.
Kalau tak ada penyaluran, justru bisa terbawa ke pertemanan yang mengarah ke hal negatif. Di sini peran orangtua, sekolah dan masyarakat untuk sama-sama membuat formula agar anak-anak selalu dalam pengawasan, punya kegiatan positif.
Tak kalah penting pendidikan agama diharapkan tidak hanya sebagai pelajaran tambahan di sekolah. Pihak sekolah dan keluarga bisa benar-benar menjadikan pendidikan agama sebagai sarana pendidikan nilai dan karakter anak dan remaja.
Nilai dari pelajaran agama ini bisa menjadi rem buat remaja saat berada di luar rumah atau pun pergaulan. Kurangnya muatan pelajaran keagamaan yang didapatkan remaja baik di rumah maupun di sekolah menjadi evaluasi bagi kita semua ke depannya.
Terlalu banyak waktu luang dan tak ada kegiatan yang positif bagi remaja juga kurang baik karena rawan terseret ke pergaulan negatif. Usahakan remaja selalu diiikutkan dalam kegiatan atau aktivitas positif baik di masyarakat dan di sekolah sehingga energinya yang besar selalu tersalur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Tajuk-Mudik-Bijak.jpg)