Berita Kotabaru

Keripik Produksi Napi Kotabaru Ini Dinikmati Banyak Pelanggan, Rasa Gurih dan Kemasan Menarik

Ajung jempol untuk hasil keripik dari warga binaan permasyarakat (WBP) Lapas Kotabaru yang membikin keripik, miliki kemasan apik dan menarik

Penulis: Herliansyah | Editor: Irfani Rahman
Banjarmasinpost.co.id/Helriansyah
Keripik olahan para warga binaan permasyarakatan (WBP) Lapas Kotabaru mulai banyak digemari pelanggan 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dalam kungkungan jeruji besi, bukan berarti warga binaan pemasyarakatan (WBP) hanya berdiam diri. Di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kotabaru, mereka diberi keterampilan, pembuatan keripik tempe dan keripik pisang.

Produk makanan olahan beberapa narapida tersebut, selain dibeli petugas juga dipasarkan ke masyarakat saat membesuk keluarga. Guna menarik minat pembeli, produk juga dikemas apik.

Berkat kemasan yang apik pula, produk olahan juga dipasarkan ke beberapa instansi pemerintah dan pasar umum. Bahkan beberapa pasar ritel yang bekerjasama dengan lapas.

Kalapas Kotabaru Yosef Benyamin Yembise mengatakan, produk hasil UMKM dipasarkan karena sudah mengantongi sertifikat P-IRT yang dikeluarkan Unit Pelayanan Satu Pintu Dinas Kesehatan Kotabaru.

Adanya sertifikat P-IRT, menurut Yosef, sebagai bukti komitmen Lapas menjamin keamanan, mutu, gizi dan label pangan olahan WBP untuk diperdagangkan.

“Kami menjamin kualitas keripik tempe dan keripik pisang buatan warga binaan. Selain rasanya yang enak, produk ini juga memiliki sertifikat P-IRT,” katanya, Senin (29/7).

Dengan adanya pembinaan kemandirian kepada narapidana, diharapkan setelah selesai menjalani masa tahanan mereka mampu membuka usaha secara mandiri. “Sangat senang, ternyata mereka produktid dan berkarya. Semoga apa didapat bisa diterapkan setelah bebas,” harapnya.

Ditambahkan Yosef, usaha produk olahan WBP menggunakan peralatan khusus pemotong, termasuk juga ada pisau. Hanya saja kegiatan pengolahan tidak dilakukan di dalam blok tahanan, tapi di ruang khusus yang bercampur dengan petugas di bagian dapur.

Hal ini sebagai langkah antisipasi sekaligus pengamanan karena ada barang-barang untuk proses produksi yang dilarang dibawa masuk ke lingkungan tahanan. “Jadi bukan di blok, tapi ada tempat khusus. Setelah selesai, mereka kembali ke blok. Sebelum masuk blok di brifing dulu,” ucapnya.

Adapun untuk modal usaha produksi keripik yang melibatkan tujuh orang WBP, murni dibiayai Lapas. Sedangkan pengolahannya melalui program kemandirian oleh pihak Lapas Kotabaru.

Yosef juga mengakui bahwa produk makanan ringan ini masih bersifat percobaan dan baru dimulai sebulan yang lalu. Namun ke depannya upaya memberi bekal kemandirian ini akan terus ditingkatkan, dan setiap produk dipasarkan pendapatan masuk dalam penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

“Mereka (WBP) akan mendapat premi. Bisa digunakan untuk keperluan keluarga mereka, misal sekolah anak berada di luar. Saat ini (premi) belum, kam masih uji coba,” pungkasnya.

Leny, salah satu pengunjung mengakui kegurihan produk itu setelah mencicipi. Bahhan, kata dia, kekhasan rasanya tidak kalah dengan produk lainnya. “Semoga produk ini dapat menambah penghasilan mereka,” tutupnya. (helriansyah)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved