Kolom
Jika Kezaliman Melanda
Semakin sering mereka menyaksikan kezaliman menunjukkan keangkuhannya, semakin bertambah pesimisme melanda jiwa mereka. Harapan seolah tak ada lagi.
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - BAYANGKANLAH sebuah negeri nan indah. Alamnya terdiri dari bukit-bukit bersambung, sungai-sungai yang kecil dan besar, hutan-hutan yang lebat, dan pantai-pantai yang panjang.
Tanahnya subur, dan di balik lapis-lapis buminya, terdapat intan, emas hingga batubara. Penduduknya taat beragama dan hormat pada ulama.
Namun sayang, kekayaan alam itu dibabat dan dikeruk habis-habisan oleh para penguasa-pengusaha. Demi harta dan takhta, kaum terpelajar justru menghamba pada mereka.
Apakah di sana tak ada lagi orang-orang waras yang berhati nurani? Tentu saja ada, bahkan mungkin banyak.
Namun mereka berbeda dalam menyikapi kenyataan pahit itu. Ada yang berusaha untuk melawan, bahkan dengan segala resiko yang berbahaya, tetapi seringkali kalah dan gagal. Ada lagi yang memilih diam karena takut, atau karena tidak ingin terlibat lebih jauh.
Baginya, yang penting mengurus diri sendiri dan keluarga saja: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka” (QS 66:6).
Semakin sering mereka menyaksikan kezaliman menunjukkan keangkuhannya, semakin bertambah pesimisme melanda jiwa mereka. Harapan seolah tak ada lagi.
Para ulama yang sudah pupus harapan akan perbaikan keadaan, mulai menyenandungkan syair eskapis, pelarian dari dunia, yang konon dari tokoh Sufi, al-Ghazali: hādzā zamān al-sukūt; luzūm al-buyūt; ridhā bi al-qūt; hattā an tamūt (inilah zaman diam tak berkata; tinggal di rumah saja; rela dengan makanan yang ada; sampai maut tiba).
Semua sikap yang dipilih, baik berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan dengan kemampuan yang dimiliki, bersuara dengan lisan ataupun tulisan, atau sekadar menolak dengan hati, merupakan pilihan moral yang sah.
Bahkan menjilat dan menghamba pada penguasa yang zalim adalah juga pilihan moral. Artinya, semua harus dipertanggungjawabkan. Semua juga akan menimbulkan akibat-akibat yang tak bisa dihindarkan. Jika mayoritas mendukung kezaliman, pastilah keadilan akan kalah.
Manusia tidak bisa menghindari pilihan moral karena pilihan itulah yang membuatnya menjadi manusia, bukan setan yang selalu jahat atau malaikat yang selalu baik. Pilihan moral itu terletak di hati (iman) dan perbuatan (amal).
Yang di hati adalah sikap (attitude), dan perbuatan adalah usaha (effort) yang dilakukan sesuai dengan sikap yang dipilih. Setiap orang dapat mengendalikan sikap dan usaha yang dipilihnya. Di luar keduanya, manusia tak sepenuhnya memegang kendali.
Mungkin masalah inilah yang membuat Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa ketika dia muda dan merasa pintar, dia ingin mengubah dunia. Setelah dewasa dan bijak, dia hanya ingin mengubah diri sendiri.
Mengubah dunia sangat sulit karena banyak hal berada di luar kendali seseorang, sedangkan mengubah diri sendiri adalah niscaya karena di situlah letak kebebasan moral yang diberikan Tuhan kepada manusia. Karena itulah orang bilang, jika ingin berubah, mulailah dari diri sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin-new.jpg)