Tajuk

Tiru Program Internship

Guru menjadi contoh, teladan dari muridnya. Profesi guru adalah mulia. Sayangnya, seringkali kehidupan guru tidak berbanding lurus dengan pekerjaannya

Editor: Irfani Rahman
BANJARMASINPOST.CO.ID/RENI KURNIAWATI
Guru mengajarkan anak didiknya memilah sampah dan juga memanfaatkan botol plastikdi SDN Pelajau, Kecamatan Batumandi, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, 

BANJARMASINPOST.CO.ID - GURU adalah singkatan dari digugu dan ditiru. Maksudnya guru menjadi contoh, teladan dari muridnya. Profesi guru adalah mulia. Sayangnya, seringkali kehidupan guru tidak berbanding lurus dengan pekerjaannya mencerdaskan anak bangsa. Apalagi guru di daerah terpencil.

Nasib guru di daerah terpencil sering kurang baik karena berbagai tantangan dan hambatan yang mereka hadapi, baik dari segi fasilitas, ekonomi, maupun sosial. Dibandingkan rekan seprofesinya yang bertugas di perkotaan, guru di daerah terpencil penuh perjuangan. Perjuangan untuk mengajar dan menghidupi dirinya sendiri.

Tantangan terbesar guru daerah terpencil adalah mminimnya infrastruktur. Banyak daerah terpencil sulit dijangkau karena kondisi jalan yang buruk atau minimnya sarana transportasi. Guru sering harus berjalan kaki atau menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke tempat mengajar.

Demikian pula fasilitas sekolah, di daerah terpencil bisa ditemui kekurangan sarana seperti meja, kursi, buku pelajaran, laboratorium, dan fasilitas pendukung lainnya. Hal ini membuat proses belajar mengajar menjadi kurang efektif. Ditambah pula keterbatasan akses pada kebutuhan dasar. Misalnya layanan kesehatan minim, ketersediaan bahan pokok yang terbatas.

Baca juga: Refleksi Hari Guru Nasional 2024, Guru Tanpa Beban

Sedangkan dari aspek sosial, guru di daerah terpencil ‘terisolasi’, jauh dari keluarga, teman dan komunitas penduklung. Belum lagi tantangan budaya, perbedaan bahasa dan adat istiadat hingga perlu penyesuaian ekstra dibanding guru perkotaan.

Guru berstatus honorer lebih parah nasibnya dibanding guru PNS atau PPPK, yakni gaji kecil, dibayar per beberapa bulan.

Bagi para ujung tombak pendidikan ini, harusnya diberi keistimewaan, gaji atau tunjangan khusus. Namun, di beberapa daerah insentif untuk guru di daerah terpencil, distribusinya sering tidak merata atau proses pencairannya lambat.

Kesejahteraan guru di daerah terpencil yang kurang terperhatikan bisa berdampak pada motivasi dan kinerja mereka. Lambat laun, banyak guru enggan mengajar di daerah terpencil. Berdampak pula pada rotasi tenaga pengajar yang mandek karena para guru lebih memilih mengajar di perkotaan.

Harusnya bisa dibuatkan pola baku untuk memacu para guru mau mengajar di daerah terpencil. Seandainya program guru daerah terpencil bisa mengadopsi program internship para dokter muda, mungkin tidak ada persoalan kesejahteraan itu dan mereka termotivasi untuk berkarya secara optimal.

Gaji dokter muda yang mengikuti program intership memang berbeda-beda tiap daerah, tertinggi untuk daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan di atas Rp 6 juta. Dokter internship juga menerima tunjangan dari pemerintah daerah, yang besarannya tergantung kebijakan daerah masing-masing.

Meskipun ada guru yang cukup sejahtera karena mendapat tunjangan sertifikasi, namun perlu kiranya dipikirkan pemerataan kesejahteraan guru, terutama bagi yang bertugas di daerah terpencil. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved