Tajuk

Hari Buruh, Masih Tidak Baik-Baik Saja

LANSKAP perekonomian dunia tengah berguncang. Perlambatan pertumbuhan global, naik-turunnya harga energi, serta ketidakpastian politik di berbagai

Editor: Edi Nugroho
Humas Polda Kalsel
BURUH- IlustrasI: Ratusan buruh hadiri acara Peringatan Hari Buruh Internasional di Polresta Banjarmasin, Senin (28/4/2025). 

LANSKAP perekonomian dunia tengah berguncang. Perlambatan pertumbuhan global, naik-turunnya harga energi, serta ketidakpastian politik di berbagai kawasan dunia yang memengaruhi dinamika ketenagakerjaan nasional masih terjadi.

Dalam kondisi inilah Hari Buruh 2025 hadir pada Kamis, 1 Mei besok. Tiap tahun di tanggal itu, dunia mengenang kembali arti perjuangan kaum buruh  membela hak, menuntut keadilan, dan memperjuangkan masa depan mereka yang lebih baik.

Di Indonesia, hari yang populer disebut May Day itu, juga hadir dalam kondisi yang masih tidak baik-baik saja. Kesenjangan ekonomi, tetap terpampang lebar di depan mata. Demikian pula ketidakpastian kerja dan perlindungan sosial yang masih jauh dari kata cukup.

Di tengah klaim pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di atas lima persen, buruh masih bergulat dengan stagnasi upah akibat inflasi, mahalnya biaya hidup, kecemasan kehilangan pekerjaan dan tuntutan keterampilan baru yang cepat berubah.

Baca juga: Maling Beraksi di Kamar Pasien RSHD Barabai, Terekam Kamera CCTV Gasak HP

Baca juga: Akhirnya Bisa Wisuda, Mahasiswa Akhir ULM Ungkap Rasa Lega Usai Akreditasi Kembali Unggul

Di sisi lain, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan adopsi energi baru terbarukan (EBT) memunculkan kebutuhan pekerja dengan kompetensi baru. Sayangnya, belum semua pekerja siap menghadapi perubahan tersebut. Pendidikan vokasi, pelatihan kerja berkelanjutan, dan perlindungan sosial adaptif menjadi kebutuhan mendesak.

Tragisnya, perubahan besar di dunia kerja, dari otomatisasi, digitalisasi, hingga transisi energi, justru seolah hanya menguntungkan sebagian pihak. Sementara, mayoritas buruh, terutama yang bekerja di sektor informal dan padat karya, masih terjebak dalam situasi kerja tanpa kepastian seperti kontrak jangka pendek dan tanpa jaminan pensiun serta jaminan kesehatan yang layak.

“Transformasi Ekonomi” dan “Bonus Demografi” yang digaungkan, juga minim dukungan kebijakan konkret yang melindungi buruh. Undang Undang Cipta Kerja, yang sejak awal kontroversial pun masih menjadi masalah yang belum bermuara pada solusi positif bagi masa depan pekerja.

Karena itu, Hari Buruh tahun ini seyogyanya menjadi momentum untuk membangun solidaritas baru. Bukan hanya sesama buruh, tetapi juga mereka dengan pengusaha dan pemerintah.

Untuk apa? Semua pihak harus bersama-sama menyiapkan strategi besar. Yakni, menciptakan lapangan kerja berkualitas, memastikan adanya perlindungan sosial yang memadai, serta memberikan ruang partisipasi yang lebih besar dalam proses pembuatan kebijakan ketenagakerjaan.

Hari Buruh 2025 bukan sekadar seremonial. Tetapi, harus terus dijadikan awal bertindak untuk membangun masa depan dunia kerja yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih adaptif terhadap zaman. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved