Tajuk

Waspada Karhutla Lagi

CUACA di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) beberapa hari terakhir terasa panas menyengat. Kekhawatiran terjadi kebakaran hutan

Editor: Edi Nugroho
 GWA Khusus Info Batola 
PADAMKAN API- Ilustrasi: Petugas dari relawan gabungan dan BPK Handil Bakti sedang melakukan pemadaman Karhutla di wilayah Handil Bakti, Batola. (arsip 2023). 

CUACA di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) beberapa hari terakhir terasa panas menyengat. Kekhawatiran terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun muncul. Terlebih musibah itu telah terjadi di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Banjarmasin Post mengangkat isu ini sebagai berita utama, Minggu (27/7). Hal ini lantaran sejumlah kebakaran lahan makin sering terjadi di sejumlah daerah. Supaya dampaknya tidak makin meluas, tentu perlu kesiapsiagaan semua pihak terkait, tidak terkecuali masyarkat.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasion Meteorologi (Stamet) Kelas II Syamsudin Noor Banjarmasin, ada 26 titik panas (hotspot) di Kalsel pada Sabtu (26/7). Kabupaten Tapin paling banyak yakni 10 titik; menyusul Banjar yakni sembilan titik; Tabalong empat titik; Balangan dua titik; dan Kotabaru satu titik.

Di Banjar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memantau melalui perangkat radio komunikasi repeater VHF, sistem peringatan dini (EWS), aplikasi WhatsApp serta situs https://sipongi.menlhk.go.id.  Koordinasi aktif juga dilakukan dengan dinas terkait, TRC, Satgas, relawan dan masyarakat.

Baca juga: Pasca Rektorat ULM Banjarmasin Terbakar, Aktivitas Mahasiswa Terpantau Normal

Baca juga: Sisa Lemari Besi, Ini Nasib Berkas-berkas Penting Pasca Gedung Rektorat ULM Banjarmasin Terbakar

Koordinasi dengan pemerintahan di tingkat kecamatan bahkan desa pun dilakukan. Sebab, biasanya lokasi kebakaran berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau.

Kejadian karhutla memang bukan hal baru. Hampir setiap tahun, bencana ini terjadi di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan yang masih memiliki lahan gambut atau kawasan dengan vegetasi tumbuhan semak dan pohon kecil relatif luas. Kawasan seperti ini biasanya rawan terbakar saat kemarau karena tersulut api yang disengaja seperti dari puntung rokok atau pembukaan lahan. Bisa juga tidak sengaja, karena panasnya paparan sinar matahari yang terpantul dari pecahan kaca, atau gesekan ranting kering.

Namun waspada saja tidak cukup. Perlu kesiapan ‘alat tempur’ dan strategi tepat mengantisipasi dan mengatasinya. Misalnya, petugas yang dikerahkan memadamkan karhutla harus yang mengusai teknik pemadaman, sekaligus dibekali dengan perlengkapan keselamatan.

Armada dan alat pemadaman yang mumpuni di lapangan harus disediakan. Jangan lagi mengandalkan armada dan alat butut yang justru makin memberatkan petugas di lapangan. Sanksi tegas harus ditegakkan bagi pelaku pembakaran lahan dan hutan. Tidak hanya masyarakat biasa, tapi juga kalangan swasta yang terlibat.

Karhutla di Banua sebenarnya sudah menjadi perhatian pemerintah pusat. Apalagi Kalsel adalah salah satu dari tujuh provinsi prioritas penanganan karhutla tahun ini, bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur (IKN), dan Sulawesi Selatan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayjen TNI Suharyanto, bahkan meminta Pemprov Kalsel segera menetapkan status kedaruratan karhutla dalam rapat koordinasi virtual Monitoring dan Evaluasi Penanganan Karhutla 2025 yang digelar awal bulan tadi.

Hal ini katanya untuk mempermudah penyaluran bantuan dari pemerintah pusat, seperti pengiriman helikopter, sarana prasarana, hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Ya, segala daya dan upaya memang harus dilakukan untuk mencegah dan mengatasi karhutla. Perlu diingat, dampak karhutla tidak hanya pada masalah lingkungan, tapi banyak aspek seperti ekonomi, kesehatan, aktivitas sosial dan lainnya. (*) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved