Tribun Smart

Siti Mahmudah Selalu Konsisten dan Istiqamah 

Siti Mahmudah yang jenjang SMP berijazah Paket B dan jenjang SMA ia berijazah Paket C, tetap bisa kuliah dan lulus sebagai wisudawati terbaik.

|
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Siti Mahmudah pengajar di Ponpes Al Falah Puteri, Banjarbaru. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Beberapa kali gap year alias masa jeda dalam mengenyam pendidikan formal, bukan berarti tak punya masa depan cerah. Sebaliknya, tetap punya kesempatan yang sama dengan orang lainnya.

Buktinya, Siti Mahmudah SPd, jenjang SMP ia berijazah Paket B dan jenjang SMA ia berijazah Paket C. Tapi kemauan belajar membuatnya bisa kuliah dan lulus sebagai wisudawan terbaik.

Wanita asal Desa Dalam Pagar, Martapura yang kini bermukim di Landasan Ulin, Banjarbaru ini, berprofesi sebagai pengajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Puteri dan juga tentor di bimbingan belajar.

Lahir pada 18 Februari 1994, anak ketiga dari enam bersaudara tersebut, juga menjabat Wakil Kepala Madrasah, Kurikulum MAS Al Falah Puteri Banjarbaru sejak 2024 hingga sekarang.

Awal Mahmudah terjun ke dunia pendidikan adalah secara ketidaksengajaan. Setelah lulus Paket C Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Martapura, ia ikut tantenya yang bekerja di kantin Ponpes  Al Falah Putri.

"Saya melihat di depan pondok ada kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah. Lantas terbetik dalam pikiran saya, ingin kuliah," katanya.

Mahmudah minta izin kepada orangtua dengan catatan ia berani kuliah dengan biaya sendiri. Akhirnya mendaftarlah di jenjang S1 Pendidikan Guru Madrasah lbtidaiyah.

"Alhamdulillah pada 2016 itu juga ada penerimaan guru di pondok pesantren Al Falah. Saya ikut mendaftar dan dites langsung oleh pimpinan pondok. Saya diminta membaca kitab gundul dan gramatikal bahas Arab. Dengan tekad saya harus kuliah biaya sendiri, syukurlah saya diterima sebagai guru," kata Mahmudah.

Perihal ilmu agama Islam, Mahmudah bersyukur banyak dapat pelajaran dari kedua orangtuanya. "Sosok berpengaruh dalam hidup saya adalah orangtua. Ibu saya adalah madrasah pertama, beliau banyak mengajarkan saya tentang agama dan ayah saya yang mengajarkan bahasa Arab, ilmu nahwu dan sharaf. Jadi saat sekolah ketika ada tugas seputar itu, abah (ayah) yang bantu menyelesaikan," tukas Mahmudah.

Selain itu, pengetahuan dan wawasan Mahmudah juga karena ia suka membaca. Satu kenangan masa kecil, saat sekolah dasar ia bersama dua temannya yang satu selera dalam membaca, berinisiatif membuat tempat baca di sekolah.

Kembali soal kuliah, Mahmudah tidak kuliah nonreguler tapi kelas khusus yang belajarnya di akhir pekan. "Saya minta izin dengan kepala madrasah agar tidak diberi jadwal mengajar di akhir pekan, jadi bisa fokus kuliah. Alhamdulillah saya bisa kerjakan tugas kuliah, bikin makalah, dan prinsip saya semua tugas tidak boleh selesai deadline, harus sebelum waktunya," tukas Mahmudah.

Kerja sebagai guru dan kuliah, ditambah menjadi Tentor Bimbingan Belajar ACC Banjarbaru sejak 2021 hingga sekarang, menurut Mahmudah dijalaninya dengan senang hati.

"Perbedaan mengajar di pondok dan bimbingan belajar itu adalah kuantitas siswa.  Selain itu di pondok ia mengajar kategori usia remaja, sedangkan bimbingan belajar dominan muridnya anak-anak. Jadi kita harus bisa menyeimbangkan dengan gaya usia murid," terangnya.

Semasa kuliah, Mahmudah juga mendapat tantangan tersendiri, terutama saat KKN para mahasiswa harus pulang ke kampung masing-masing untuk menerapkan ilmu di masyarakat.

"Tapi bersamaan dengan itu ada musibah banjir besar dan juga Covid-19. Kampung saya terendam, banyak warga mengungsi, tersisa hanya para lelaki yang menjaga rumah dan mereka juga tidur di masjid," papar Mahmudah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved