Fikrah

Sadar Musibah

LUKA dan duka akibat musibah banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa saudara kita di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat masih terngiang

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID- LUKA dan duka akibat musibah banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa saudara kita di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat masih terngiang di benak kita semua.

Musibah ini meninggalkan jejak kehancuran luar biasa. Ratusan desa terendam banjir, rumah hancur porak poranda dan yang sangat memilukan, musibah ini telah menelan ratusan korban jiwa.

Banyak nian kita saksikan di media elektronik ataupun media sosial tentang dahsyatnya banjir tersebut. Banjir yang tidak sekadar membawa air, namun lumpur dan paling mencengangkan gelondongan kayu akibat penebangan hutan juga ikut terbawa banjir.

Seakan mengingatkan kembali terjadinya tsunami Aceh beberapa tahun silam, yang juga memporak-porandakan segalanya dan menelan ribuan nyawa.

Otak kita yang waras mulai berpikir keras, penuh tanda tanya mengapa musibah banjir bandang ini terjadi? Bukankah pulau Sumatera dipenuhi dengan hutan yang luas dan seharusnya mampu menahan banjir? Ada apa dengan hutan di sana, sampai-sampai gelondongan kayu ikut hanyut terbawa banjir?

Para ahli “pandir” mulai bicara bahwa ini akibat cuaca ekstrem dan hutan tidak mampu menampung air yang begitu banyak turun dari langit.

Oh ini seakan mencela Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan kita semua. Seakan Tuhan menciptakan ketimpangan dengan ketiadamampuan alam (darat) menerima yang datang dari langit.

 Semua ciptaan Tuhan tertakar dan terukur, Ia memberikan keseimbangan alam dan keadilan pada semua hamba-Nya tanpa kecuali. Hanya saja penduduk bumi tak sadar diri.

Musibah bisa terjadi kapan dan dimana saja. Bencana bisa terjadi akibat ulah tangan manusia seperti banjir, umpamanya, terjadi akibat pepohonan dan hutan ditebang. Atau karena kemaksiatan manusia seperti hancurnya negeri Saba dan binasanya kaum Luth di Timur Tengah. Yang telah diperingatkan oleh Al-Qur’an.

Apakah bencana ini merupakan peringatan, cobaan ataukah amarah Tuhan? Hal ini dapat dipilah oleh penerimanya sendiri sesuai status dirinya.

“Bila orang itu tidak pernah taat kepada Allah SWT, maka musibah itu menjadi thardh (tendangan Tuhan), yaitu persekot siksa atau hukuman baginya; bila ia seorang yang kadang-kadang taat tetapi kadang-kadang maksiat, maka musibah itu menjadi ta’dib (peringatan) baginya; bila ia seorang yang taat, maka musibah itu menjadi taraqqi (peningkat iman) baginya”. (alm. KH. M. Hanafi Gobet, ceramah 1970).

Dulu penulis pernah bertanya sewaktu Tsunami Aceh kepada almarhum Ustadz Arifin Ilham (asli orang Banjar, mertuanya adalah orang Aceh). Ketika bertemu, “Nanda, bagaimana keadaan keluarga Istri ananda di Aceh ?”.  Arifin menjawab: “Yang meninggal dan yang tinggal semuanya selamat”. Jawaban ini menggambarkan kelapangan jiwa seorang mukmin ketika menerima musibah.

Nabi SAW bersabda, “Dan sesungguhnya Allah SWT,  jika mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Jika mereka redha, maka Allah redha kepadanya. Jika mereka benci, Allah membencinya.. (HR. Turmudzi dari Abdullah Bin Mughaffal).

Renungkan riwayat ini: Suatu ketika seorang laki-laki bertemu dengan seorang wanita yang disangkanya pelacur. Lelaki itu menggoda si wanita. Tangannya pun menyentuh tubuh wanita itu. Si wanita pun marah. Lantaran terkejut, lelaki itu menoleh ke belakang hingga mukanya terbentur tembok dan terluka.

Kemudian lelaki usil itu menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang ia alami. Rasulullah SAW berkomentar: “Allah menginginkanmu menjadi orang baik; dan sesungguhnya Allah, jika Dia mencitai suatu kaum, Dia menguji mereka. Jika mereka rida, maka Allah SWT rida kepadanya, jika mereka benci. Allah SWT membencinya”. (HR. Turmudzi)

Dengan peristiwa dahsyat ini sebenarnya Allah SWT ingin menunjukkan kepada kita Jabbar (kehebatan), Aziz (keperkasaan) Qahhar (Kekerasan-Nya). Alam sebenarnya bukan tidak ramah terhadap hidup dan kehidupan.

Alam hanya melaksanakan garis ketentuan sang Pencipta, dimana peristiwa ini menunjukkan sujudnya ia (alam) kepada Allah SWT Penciptanya yang bersifat Al Aziz (Maha Perkasa); alam sebenarnya bertasbih kepada Allah SWT penciptanya yang bersifat Al Jabbar (Maha Hebat yang kehendakNya tidak dapat dibantah); dan alam sebenarnya tunduk kepada Allah SWT Penciptanya yang bersifat Al Qahhar (Maha Keras, dimana makhluk ciptaanNya jangan coba-coba menyombongkan diri di depan-Nya).

Allah SWT berfirman: “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri”. (QS. An Nahl 49)

Peristiwa dahsyat ini seharusnya mampu mengingatkan kita akan suatu masa yang pasti akan terjadi, itulah kiamat.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah ) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lupa terhadap anak yang disusuinya; dan kandungan wanita-wanita hamil menjadi gugur, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”. (QS. Al Hajj 1-2)

Alangkah daif dan lemahnya manusia. Mari ulurkan tangan-tangan lembut anda dan dengan penuh kerendahan hati untuk membantu saudara-saudara kita di Sumatera yang tertimpa musibah. Mereka membutuhkan pertolongan kita semua. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved