Fikrah
Saat Bulan Qur’an Berlalu
Saat ini Ramadan bulan Al-Qur'an, telah berlalu. Di bulan Ramadan, umat Islam membaca Al-Qur’an lebih banyak dari bulan-bulan biasa,
KH Husin Naparin Lc MA
Ulama Kalimantan Selatan
BANJARMASINPOST.CO.ID- Ramadan bulan Al-Qur'an, telah berlalu. Di bulan Ramadan, umat Islam membaca Al-Qur’an lebih banyak dari bulan-bulan biasa, masing-masing berupaya mengkhatamkan Al-Qur’an, baik secara perorangan maupun secara berjemaah.
Hal ini diistilahkan dengan "tadarus", kendati sebenarnya tadarus berati study; mempelajari dan mendalami Al-Qur'an dari segi isi dan kandungannya disitilahkan pula dengan tadabbur.
Sebagian umat Islam, mungkin karena saking bersemangat, ada yang membaca Al-Qur'an secara over acting, dimana membaca Al-Qur'an bergiliran di masjid atau langgar, menggunakan mikropon, sejak usai salat Tarawih berlanjut sampai jauh malam; malah ada yang sampai jam 01.00 malam Selanjutnya pada jam 02.00 malam mikropon dibunyikan lagi dengan memutar kaset bacaan Al-Qur'an atau bagarakan sahur, terus sampai waktu imsak, salat Subuh dan ceramah. Hal ini di satu sisi sangat mengganggu masyarakat sekitar masjid yang beristirahat dan melaksanakan salat malam.
Sesudah Ramadan berlalu, bagaimana perhatian kita terhadap Al-Quran? Apakah kita kembali membacanya? Seandainya tidak diharuskan membaca Al-Qur'an dalam salat, barangkali ada di antara kita yang sama sekali tidak membaca Al-Qur’an. Kita tidak tergugah untuk memperdalam isi kandungannya yang pada gilirannya diharapkan dapat mengamalkan dan mendakwahkannya.
Apakah di rumah Anda ada kitab suci Al-Qur'an, kalau belum cobalah berusaha membelinya. Ada sebuah rumah muslim, ketika ada penghuni rumah itu yang meninggal; baru diketahui di rumah itu tidak ada kitab suci Al-Qur'an. Ketika dicari-cari yang ketemu cuma kartu domino satu pak.
Kalau anda sudah memilikinya; kapan membelinya? Barangkali cuma warisan dari almarhum datuk, kulitnya lusuh, sepuluh lembar pertama dan terakhir sudah robek. Mushaf seperti ini perlu diganti dan yang lama boleh dibakar jika tidak bisa dimanfaatkan.
Sudahkah pula kita mewariskan nilai-nilai Al-Qur'an kepada anak cucu kita? Mengajarkan kepada mereka membaca Al-Qur'an, membimbing-dan mengamalkan Al-Qur'an?
Ada seorang sahabat bernama Ibnu Mas'ud (w. 33 H/ 655 M). Kehidupannya begitu sederhana, tidak berkelebihan tapi tidak kekurangan. Hidupnya tenang dan tenteram. la dikenal sebagai seorang sahabat yang ahli ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadits. la adalah seorang sahabat yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW masuk surga. Pernah menjadi bendahara di Kufah pada masa pemerintahan Umar, tapi dipecat pada masa pemerintahan Utsman.
Suatu ketika Ibnu Mas'ud sakit keras yang membawanya ke pintu kematian. Utsman bin Affan, khalifah waktu itu mengunjunginya dan berkata: "Apa yang kamu derita dan kamu keluhkan?", Ibnu Mas'ud menjawab: Tidak ada, kecuali dosa-dosaku".
Utsman berkata lagi: "Apakah ada keinginan yang bisa aku bantu?", Ibnu Mas'ud menjawab: "Tidak ada, yang aku inginkan hanyalah Rahmat Tuhanku".
Utsman bertanya pula: "Bolehkah aku panggilkan seorang dokter untuk mengobatimu?" Ibnu Mas'ud menjawab: "Tidak perlu!".
Utsman bertanya kali berikutnya: "Bolehkah aku berikan kepadamu satu hadiah". Ibnu Mas'ud menjawab: Tidak perlu!
Utsman berkata lagi: "Mungkin pemberian itu akan bermanfaat bagi anak-anak perempuanmu jika kamu meninggal dunia". Ibnu Mas'ud menjawab: "Rupanya khalifah mengkhawatirkan anak-anak perempuanku akan ditimpa kefakiran? Tidak, anak-anakku tidak akan ditimpa kefakiran karena aku sudah menyuruh mereka untuk membaca surah al Waq'ah setiap malam; aku pemah mendengar Nabi SAW bersabda: Barang siapa yang membaca surah al Waqiah pada setiap malam, niscaya tidak akan ditimpa kefakiran selama-lamanya". (Lihat Shafwat al-Tafasiir, vol. IlI, hal. 304).
Ibnu Mas'ud telah mewariskan Al-Quran kepada anak-anaknya, bukan mushafnya saja tetapi membaca dan mengamalkannya. Bukankah Nabi SAW juga memerintahkan kita untuk selalu memperbanyak membaca Qur’an, sebagaimana sabdanya “Perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya, rumah yang tak ada orang membaca Al-Qur’an di dalamnya akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di rumah tersebut dat penghuninya selalu merasa susah dan sempit” (HR. ad-Daruqutni).
Dalam hadits yang lain Nabi bersabda “Rumah yang dibacakan Al-Qur’an, (1) akan terasa luas bagi penghuninya, (2) dan akan dihadiri/dipenuhi oleh para malaikat, (3) setan akan pergi meninggalkan rumah tersebut, (4) dan akan banyak kebaikan dalam rumah tersebut. (HR. Muslim)
Demikian untuk menjadi renungan kita, bagaimana seharusnya perhatian kita terhadap Al-Qur'an sesudah Ramadan berlalu.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)