Tajuk
Menyikapi Kaburnya Investor
Terjun bebasnya IHSG hingga delapan persen pada Kamis (29/1) menunjukkan minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia makin rendah.
BANJARMASINPOST.CI.ID - PEREKONOMIAN Indonesia semakin menghadapi ujian. Terbaru, Iman Rachman mengundurkan diri sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/1). Ini menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak Rabu (28/1). Penurunan drastis tersebut sempat membuat BEI melakukan penutupan sementara perdagangan dua hari berturut-turut. Ini dilakukan agar IHSG tidak semakin merosot.
Terjun bebasnya IHSG hingga delapan persen pada Kamis (29/1) menunjukkan minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia makin rendah. Semakin banyak pemilik modal tidak percaya membeli saham perusahaan di Indonesia menguntungkan. Lebih parah lagi, mereka tidak yakin modal bisa kembali.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai anjloknya IHSG hingga pembekuan pasar
dalam dua hari berturut-turut disebabkan kepanikan pelaku pasar akibat rekomendasi
Morgan Stanley Capital International (MSCI), perusahaan keuangan Amerika Serikat (AS) yang bermarkas di New York. Purbaya pun menyatakan pelemahan hanya akan berlangsung 2-3 hari.
Pemain saham adalah orang-orang yang pintar berhitung. Terlebih di pasar ini ada banyak permainan. Mereka pasti tidak mudah terpengaruh. Setidaknya ketika pasar bergejolak, mereka setop membeli.
Pemilik modal pasti sebelumnya juga melihat anjloknya nilai rupiah terhadap dolar AS hingga mendekati Rp 17 ribu. Itu artinya daya beli masyarakat Indonesia semakin turun. Hasil produksi perusahaan akan makin sulit terjual kendati negeri ini memiliki banyak penduduk.
Harus diakui kemampuan ekonomi masyarakat semakin lemah. Pengangguran meningkat. Lowongan kerja tak kunjung terbuka meski Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjanjikan 19 juta lapangan kerja. Berusaha pun sulit.
Hal ini diakui secara tidak langsung oleh pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Makin banyak program pemerintah yang berorientasi kepada masyarakat miskin. Banyak bantuan langsung tunai disalurkan. Pemerintah juga menggelar Sekolah Rakyat untuk anak-anak masyarakat miskin.
Pemerintah tidak mau secara terbuka mengakui keluhan masyarakat. Angka statistik kemajuan ekonomi pun diperlihatkan meningkat.
Namun kondiri riil perekomian negeri ini tidak bisa lagi ditutup-tutupi setelah pengusaha dan pemilik modal bersikap. Sejumlah perusahaan besar menutup pabriknya. Investor pun kabur.
Mereka menyikapi sulitnya berinvestasi. Berbelitnya birokrasi perizinan. Banyaknya pula pungutan baik resmi maupun liar. Belum lagi korupsi yang merajalela.
Kondisi tidak bisa dianggap remeh oleh pemerintah Prabowo-Gibran. Pemerintah harus jujur dan bersikap. Kebijakan yang dibuat harus benar-benar menguatkan perekonomian masyarakat sehingga daya beli meningat. Permudah dunia usaha sehingga produksi dalam negeri pun meningkat. Dengan tingginya jual beli maka investor pun tertarik untuk kembali menanamkan modalnya di negeri ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Direktur-Utama-Bursa-Efek-Indonesia-BEI-Iman-Rachman-mengumumkan-pengunduran-diri.jpg)