Kolom

Dikepung Konsumsi dan Didesak Regulasi

Saat ini perdebatan awal dan akhir Ramadan di Indonesia menjadi hal yang biasa dan perbincangan ini pun telah lama sebelum beredar di media sosial

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Dokumentasi Banjarmasinpost.co.id
Supriansyah, Peneliti di Kindak Kata Institute 

Oleh: Supriansyah
Peneliti di Kindak Kata Institute

BANJARMASINPOST.CO.ID- PERDEBATAN klasik “Awal” dan “Akhir” Ramadan sudah dimulai. Iya, diskusi ini sudah berlangsung lama. Bahkan, perbincangan ini sudah lebih dahulu ketimbang media sosial. Memang, urusan ini memasuki babak baru kala media sosial mulai melahirkan para pemengaruh. Kenapa?

Sebelum ke sana, beberapa hari terakhir atau bahkan seminggu ini, aplikasi berbagi pesan dan linimasa media sosial kita sudah dijejali pertanyaan, “Kapan kita mulai berpuasa?” atau “Ormas ini mulai berpuasa hari apa?” Perbedaan ini terus diproduksi, bahkan difabrikasi, setiap awal Ramadan. Menariknya, kita masih belum sepakat hingga hari ini.

Saya juga tidak mengerti mengapa kita tidak tinggalkan saja perdebatan awal dan akhir puasa? Puasa menghadirkan banyak dinamika dalam kehidupan masyarakat kita.

In this economy, ketika angka kemiskinan masih terus diperdebatkan, padahal fakta kesulitan mencari kerja dan penurunan daya beli itu menandai peningkatan kelompok tergolong miskin di masyarakat kita. Bukankah kita sudah seharusnya mulai bertanya, “bagaimana dengan mereka?”

Terlebih, kala bulan puasa, gelombang  berbagi di masyarakat terbilang pasang. Tentu ini sangat disayangkan jika hanya menjadi “gelembung” di media sosial belaka, tak punya pengaruh di dunia nyata. Mari kita ulik bersama.
 
Menyambut Konsumsi, Tak Lagi Menunggu Beduk

Sebagian kita mungkin sudah tidak lagi mendengar diksi “Beduk” untuk menandai berbuka puasa. Bunyi itu sudah mulai tergantikan alarm atau notifikasi di gawai kita. Mungkin hari ini kita juga lebih familiar dengan azan Magrib.

Di tanah Banjar, berbuka sebagian ditandai bunyi sirine. Gema itu didistribusikan lewat siaran radio resmi milik Masjid besar di kota Banjarmasin.

Apakah masyarakat langsung berbuka? Tidak semua. Kok Bisa? Iya, di beberapa wilayah, terlebih yang memiliki jarak lebih dari 40 kilometer, sebagian masyarakat biasanya menunggu 1-15 menit untuk berbuka. Masa menunda ini merupakan kompensasi perbedaan waktu dan posisi wilayah dengan titik nol, yakni Banjarmasin.

Perubahan penanda waktu berbuka itu sesungguhnya bukan sekadar soal teknologi atau pergeseran bunyi dari beduk ke sirine dan gawai. Ia mencerminkan perubahan yang lebih dalam tentang cara masyarakat memaknai Ramadan.

Jika dulu bunyi penanda berbuka berfungsi sebagai isyarat kolektif yang menautkan ruang, waktu, dan kesabaran, kini ia berkelindan dengan ritme hidup yang lebih cepat, terukur, dan individual.

Dari sini, Ramadan perlahan bergeser dari pengalaman spiritual yang sunyi dan komunal menuju pengalaman sosial yang sarat makna baru. Pergeseran inilah yang kemudian membuka ruang bagi narasi lain untuk masuk, mempengaruhi, bahkan membentuk ulang cara kita berpuasa hari ini.

Sekitar dua tahun lalu, kita sempat dihebohkan dengan “War Takjil.” Hal ini kemudian dijadikan narasi kebersamaan. Beberapa tokoh agama, diantaranya Habib Ja’far dan kawan-kawan, menjadi narasi tersebut untuk mendorong kebahagiaan dalam bulan puasa. Kita akhirnya tidak lagi dikelilingi urusan dengan perbedaan primordial.

Berpuasa tidak lagi bernada menahan lapar dan dahaga. Juga tidak hanya menangkal hawa nafsu. Berpuasa hari ini lazim berkelindan dengan narasi konsumsi.

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan, Purbaya Budi Sadewa, menyampaikan bahwa Pemerintah akan membagikan Tunjangan Hari Raya di awal bulan puasa. Katanya ingin mendorong konsumsi agar ekonomi turut bergerak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved