Kolom
Membaca Bung Karno: Antara Romantisme Sejarah dan Kolonialisme Algoritma
TAHUN 1930, di ruang sidang Landraad Bandung, seorang pemuda bernama Soekarno berdiri sebagai terdakwa.
OLEH: IKHSAN ALHAQUE
Pegiat Literasi Tinggal di Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- TAHUN 1930, di ruang sidang Landraad Bandung, seorang pemuda bernama Soekarno berdiri sebagai terdakwa. Di hadapan hakim kolonial Belanda, ia tidak datang untuk menundukkan kepala atau memohon belas kasihan.
Ia justru mengubah kursi terdakwa menjadi mimbar perlawanan intelektual. Melalui pledoi yang kemudian dikenal sebagai Indonesia Menggugat, Soekarno tidak sekadar membela dirinya sendiri, tetapi menggugat sistem yang melahirkan penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan bernama imperialisme.
Hampir satu abad kemudian, kapal perang telah menjadi catatan sejarah dan meriam kolonial tersimpan di museum. Namun sejarah mengajarkan satu hal: kekuasaan tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berganti pakaian, mengganti bahasa, dan menemukan jalan baru untuk memasuki kehidupan manusia. Dahulu, wajah kekuasaan hadir melalui seragam, bedil, dan gedung pemerintahan kolonial.
Hari ini, ia dapat hadir melalui kode, layar, dan notifikasi yang perlahan mengarahkan perhatian, membentuk kebiasaan, dan memengaruhi pilihan manusia. Tentu, menyamakan tantangan digital hari ini dengan kolonialisme masa lalu adalah penyederhanaan sejarah yang keliru.
Tidak ada penjajahan teritorial atau kerja paksa sebagaimana dialami bangsa-bangsa pada era kolonial. Nick Couldry dan Ulises A. Mejias menyebut fenomena ini sebagai data colonialism: pengalaman hidup manusia sehari-hari yang diubah menjadi data untuk dikumpulkan, dianalisis, dan menjadi sumber nilai ekonomi baru.
Maka pertanyaan pada abad ke-21 bukan lagi semata siapa yang menguasai wilayah geografis, tetapi siapa yang menguasai data, perhatian, pilihan, dan perilaku manusia.
Membaca Bung Karno di era algoritma bukanlah sekadar mengenang atau mengagungkan seorang tokoh besar dari masa lalu, melainkan ikhtiar menyalakan kembali keberanian berpikir sebagai manusia merdeka ketika perhatian, pilihan, bahkan kesadaran kita perlahan diperebutkan oleh kuasa data dan tangan sunyi bernama algoritma.
Melampaui Romantisme Sejarah
Bung Karno harus dibaca sebagai manusia besar dengan seluruh kompleksitasnya: keberhasilan dan kegagalan, keberanian dan kontroversi, kejayaan dan keterbatasan sebagai bagian dari perjalanan sejarah.
Kita tidak membutuhkan kultus terhadap tokoh. Kultus sering kali melahirkan generasi yang rajin menghafal kalimat besar, tetapi kehilangan keberanian mengajukan pertanyaan besar. Warisan terbesar Bung Karno bukanlah sekadar monumen, nama jalan, atau romantisme sejarah, melainkan keberanian untuk tetap berpikir merdeka ketika zaman mencoba menyeragamkan cara manusia melihat dunia.
Mungkin, seandainya Bung Karno hidup pada abad ke-21, pertanyaan yang ia ajukan bukan lagi semata “siapa yang menguasai tanah kita”, tetapi juga “siapa yang menguasai pikiran dan perhatian kita”.
Menuju Kuasa Algoritma
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/IKHSAN-ALHAQUE-Pegiat-Literasi-Tinggal-di-Banjarmasin-1.jpg)