Kolom
Lonjakan Harga BBM dan Perubahan Iklim, Dua Tantangan, Satu Solusi Energi Terbarukan
Rabu 10 Juni 2026 pemerintah telah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter
Oleh: Rizky Muhammad Rahman, STr MSi
Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Wilayah IV
BANJARMASINPOST.CO.ID- PADA Rabu 10 Juni 2026 pemerintah telah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter, adapun Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya perekonomian dunia terhadap gejolak pasokan energi berbasis fosil.
Krisis tahun ini mempertegas satu realitas pahit bahwa selama energi kita bergantung pada minyak bumi, kedaulatan ekonomi sebuah negara akan selalu disandera oleh konflik asing.
Minyak bumi adalah komoditas global. Artinya, meskipun sebuah negara memproduksi minyak sendiri, harganya akan tetap mendongak naik mengikuti hukum pasar internasional saat terjadi disrupsi pasokan di Timur Tengah.
Ketika harga BBM naik, biaya logistik membubung tinggi, harga pangan ikut meroket, dan daya beli masyarakat langsung merosot.
Ketergantungan ini menciptakan lingkaran setan kerentanan ekonomi yang tidak berujung. Krisis ini bukan sekadar siklus pasar biasa, melainkan sebuah alarm keras bahwa transisi ke energi terbarukan tidak bisa lagi ditunda.
Satu-satunya jalan keluar jangka panjang agar terbebas dari volatilitas harga komoditas fosil adalah mempercepat adopsi Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti energi surya (solar), angin (wind), hidro, dan panas bumi (geothermal).
Berbeda dengan minyak yang harus dikirim melintasi samudera dan melewati titik-titik rawan perang seperti Selat Hormuz, sinar matahari dan angin tersedia secara lokal.
Begitu infrastruktur panel surya atau turbin angin dibangun, sumber energinya gratis dan tidak dapat diembargo atau ditutup oleh negara lain.
Berdasarkan data badan energi internasional, biaya pembangkitan listrik dari platform surya dan angin skala besar kini jauh lebih murah dibandingkan membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas atau batu bara baru.
Ditambah dengan teknologi baterai yang kian matang, EBT kini mampu memasok listrik secara stabil selama 24 jam dengan harga yang dapat diprediksi.
Perubahan Iklim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rizky-Muhammad-Rahman-STr-MSi-Pengamat-Meteorologi-dan-Geofisika-BMKG2.jpg)