Success Story
Rama Hartati Mulai dari Nol Pengalaman
ANAK bungsu bukan berarti bisa bermanja dengan saudara, sebaliknya bagi wanita satu ini ia harus bisa mandiri.
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
ANAK bungsu bukan berarti bisa bermanja dengan saudara, sebaliknya bagi wanita satu ini ia harus bisa mandiri. Sepeninggal orangtuanya, ia melakukan berbagai pekerjaan karena memang di kampung sudah biasa hal seperti itu.
Kini di kota ia menjadi seorang manajer yang mengelola banyak karyawan dan karyawati. Apa dan siapa dia, berikut petikan wawancara dengan human resource manager Hotel Roditha Banjarbaru tersebut.
Bisa diceritakan masa muda dan keluarga Anda?
Saya ini berasal dari kampung di Ampah, Kalimantan Tengah. Saya anak bungsu dari sembilan bersaudara yang enam di antaranya adalah perempuan termasuk saya.
Orangtua meninggal saat saya SMP, sehingga saya kemudian diasuh kakak saya hingga SMA, kemudian sempat pula kuliah namun tidak selesai karena keterbatasan biaya, maklum hanya mengandalkan uang pensiun ayah.
Apa pengalaman kerja Anda saat muda?
Saat masih sekolah saya kerja di kebun, ikut menyadap karet. Begitu pula setelah lulus sekolah dan sempat menganggur karena putus kuliah, saya kerja di kebun lagi.
Sudah menjadi kebiasaan anak kampung kerja di kebun atau pekerjaan lain, kami harus serba bisa.
Syukurlah kemudian saya diterima bekerja di sebuah perusahaan tambang batu bara sebagai staf administrasi.
Bagaimana kemudian Anda bisa sampai bekerja ke Banjarmasin?
Jadi, waktu itu ada keluarga yang akan membangun hotel yaitu Queen City Hotel. Lantas beliau mengajak saya bergabung.
Saya semula ragu karena tidak tahu bisnis hotel. Lantas keluarga saya itu menyatakan, dia juga sama, tapi dia minta saya tetap membantu, membangun sama-sama.
Saya penuhi permintaan tersebut dan bersama merintis hotel tersebut. Setelah sepuluh tahun bekerja di sana kemudian saya memutuskan pindah kerja untuk cari pengalaman baru.
Apa pekerjaan berikutnya?
Saya merasa sudah mendapat pasion di perhotelan, sehingga saat ada kesempatan kerja di Hotel Roditha Banjarbaru, pada 2019, saya melamar dan diterima sebagaj asisten Human Resources Manager (HRM).
Rupanya memang jiwa saya adalah mengurus banyak orang, dan sekarang diangkat sebagai HR Manager.
Apa kesan Anda berkarier di perhotelan?
Pastinya sebagai manajernya karyawan ada suka dukanya. Pastinya adalah imej orang bahwa setiap HRM itu sikapnya kaku dan pemarah.
Saya akui memang saya juga bersikap seperti itu. Makanya saya berusaha merubah sikap, walau susah namun secara bertahap akhirnya bisa.
Owner hotel juga mendukung saya untuk bisa lebih humanis dalam mengelola karyawan. Jadinya, sekarang saya lebih banyak pendekatan kepada mereka, mau mendengarkan keluhan dan masukan.
Tapi juga kita harus menjadi panutan atau tauladan bagi mereka. Sebagai manajer kita tidak bisa datang terlambat, karena itu akan menjadi contoh.
Bagaimana Anda bersikap saat harus memberikan tindakan terhadap karyawan yang melanggar aturan bahkan mesti di PHK?
Ya, ibaratnya begini, sebagai manajer kita ini satu kaki di pihak manajemen dan satu kaki lagi di pihak karyawan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rama-Hartati.jpg)