Jokowi
TIDAK ada pemilihan kepala daerah baik bupati/wali kota maupun gubernur, sesemarak Pemilukada DKI Jakarta.
Bukan hanya orang Jakarta, Pemilukada DKI telah menyihir masyarakat berbagai daerah, mulai tukang becak sampai pengamat. Mereka ikut larut dalam hingar bingarnya pemilukada.
Bahkan ketika pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) dalam hitungan sementara mengungguli Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara), emosi kegembiraan meledak di mana-mana.
Tidak hanya di Jakarta atau Solo (tempat Jokowi berasal), masyarakat berbagai kota di Jateng, Jatim, dan provinsi-provinsi di luar Jawa, ikut bergembira.
Mereka mengadakan acara syukuran, sederhana tapi suasana hati meluap-luap. Mereka seperti ikut merasakan kemenangan Jokowi-Ahok. Yang lain mengikuti lewat siaran berbagai stasiun televisi yang tayangannya menyamai pemilihan presiden.
Kalau dilihat bahwa Jakarta itu serambinya Indonesia, wajar jika orang di seluruh Indonesia ikut memperhatikan Pemilukada DKI. Tetapi bukan hanya itu, sosok Jokowi-Ahok adalah alternatif yang dicari rakyat. Itulah yang menjadikan pemilukada DKI makin hidup, membuat orang tersihir.
Rekam jejak Jokowi sebagai wali kota dan Ahok sebagai mantan bupati (Belitung, Bangka Belitung) meyakinkan rakyat bahwa merekalah pemimpin yang ditunggu. Memang masih harus dibuktikan, tetapi setidaknya sikap, tindak tanduk, kedekatan dengan rakyat dan kejujurannya selama memerintah, telah menjadi penyegar dahaga atas dambaan adanya sosok pemimpin.
Para pendukung Jokowi juga orang-orang sederhana yang bekerja tanpa pamrih. Tidak sulit mencari orang seperti itu. Sebagian besar orang Jakarta itu miskin. Lihat kalau mudik, mereka beramai-ramai naik motor, bukan mobil mewah.
Saat kampanye atau pencoblosan makan didrop dari dapur umum, bahkan tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Puan Maharani yang juga putri mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, ikut mengatur dapur umum.
Kebiasaan kaum marhaen untuk bekerja gratisan seperti ini terasa benar saat-saat partai punya kerja. Waktu pemilihan presiden pun mereka rela bikin spanduk, umbul-umbul dengan dana sendiri demi mendukung Megawati. Ini berbeda dengan mereka yang mendapat dukungan karena uang.
Kemenangan Jokowi-Ahok menjadi fenomenal karena pasangan ini hanya didukung oleh dua parpol, PDIP dan Gerindra yang jumlah anggotanya tidak akan cukup untuk memenangkan pemilihan gubernur. Sebaliknya Foke-Nara didukung partai-partai besar seperti Demokrat Golkar, PKS, PAN, PKB, PPP dan Hanura.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kebijakan partai tidak lagi berbanding lurus dengan keinginan rakyat. Rakyat melihat figur, bukan parpol. Rakyat sudah pengalaman apa yang didapat dari parpol selama ini.
Dalam pemilihan gubernur lima tahun lalu Fauzi didukung hampir semua partai, sementara lawannya Adang Dorojatun, hanya didukung PKS. Toh menangnya hanya tipis. Rupanya ini tidak dilihat oleh para elite. Itulah jadinya kalau kacamata pemimpin dan rakyat berbeda.
***
Banyak pengamat mengatakan, bulan madu antara parpol dan massa pemilih sudah berakhir, setidaknya menjurus ke perceraian. Rakyat bukan lagi orang yang mudah dipengaruhi. Politik uang mungkin belum akan berakhir, tapi hati nurani mereka semakin sulit untuk diusik. Pencitraan akan lebih dominan tapi bukan pencitraan kosong yang dibuat-buat, melainkan pencitraan yang berisi, yang didasari bukti.
Kemenangan Jokowi bisa menjadi pelajaran tidak hanya untuk memilih presiden pada 2014 nanti, tapi juga pemilukada yang lain yang biasanya penuh dengan basa-basi politik, uang dan sikap-sikap tak bersahabat manakala jagonya kalah. Pemilukada di berbagai daerah telah menjadi neraka bagi demokrasi di daerah itu.
Pemilukada DKI bisa menjadi contoh. Kedua calon ternyata bisa mengendalikan massanya, yang menang atau kalah sama-sama bisa menjaga emosi pendukungnya.
Siapa bilang Jakarta itu hanya miliknya orang Betawi. Jakarta itu seperti Amerika Serikat, penduduknya heterogen dari berbagai suku. Orang Afrika bisa menjadi presiden Amerika yang sangat berkuasa, kini orang Solo menjadi Gubernur Jakarta yang sangat prestisius.
Komitmen Barack Obama terhadap rakyat miskin sangat tinggi, komitmen Jokowi juga sama. Keduanya juga bukan pemimpin partai, juga sama-sama miskin untuk ukuran masing-masing. Tinggi badan, kurus-kurusnya, wajahnya juga mirip-mrip. Mereka juga sama-sama dicintai rakyat kebanyakan.
DKI dengan APBD Rp 180 triliun selama lima tahun hanya tambah macet dan banjir, Solo dengan kisaran Rp 5 triliun selama 5 tahun bisa disulap seperti itu. Tunggu apa lagi Pak Jokowi, langsung saja tancap gas, rakyat menunggu bukti. (*)

