Guru Alay, Murid Pun..?
Tersebutlah di sebuah negeri, sedang diadakan pemilihan guru terbaik di dunia. Peserta pertama datang dari benua Afrika,
Oleh: M Muhransyah SPd
Guru SDN di Landasan Ulin Barat Banjarbaru
Tersebutlah di sebuah negeri, sedang diadakan pemilihan guru terbaik di dunia. Peserta pertama datang dari benua Afrika, masuklah seorang bapak berusia paruh baya dengan pakaian biasa dan membawa beberapa peralatan sederhana.
Dengan cekatan dan terampil bapak tadi mendemontrasikan peralatan karya inovasinya. Para juri yang terdiri dari perwakilan lima benua pun manggut-manggut dan sepakat dengan metode tersebut tingkat keberhasilan anak didik mencapai 85 persen.
Lalu masuk lagi peserta kedua dari benua Eropa, seorang perempuan dengan membawa laptop dan peralatan canggih lainnya. Setelah mempresentasikan karyanya, para juri sepakat dengan metode guru dari Eropa tadi tingkat keberhasilan anak didik mencapai 90 persen.
Dan akhirnya sampailah giliran guru dari benua Asia yang diwakili Indonesia. Seorang perempuan paruh baya dilengkapi tas ber-merk, sepatu hak tinggi, memakai kacamata “Syahrini”. Tangan kanan memegang iPad, tangan kiri memegang laptop. Ketika disuruh mempresentasikan karyanya, perempuan tadi malah maju mendekati para juri dan berfoto.
“Mau update status dulu”, katanya dengan enteng.
Para juri melongo, dalam hati mereka sepakat, bahwa guru ini akan membuat anak didik 100 persen gagal dalam pendidikannya.
Kisah di atas hanya sebuah guyon dari seorang teman. Tetapi diakui atau tidak gaya-gaya alay (anak layangan) sudah mulai menjadi fenomena sebagian pendidik kita. Alay dikonotasikan sebagai bentuk atau kondisi yang labil dan mudah goyah.
Kita bisa lihat kenyataan terjadi di masyarakat. Betapa banyak guru yang tidak seperti “guru” lagi. Guru sudah mulai goyah dan rapuh. Kita seperti tidak kuat menghadapi terpaan modernisasi. Padahal guru merupakan pilar penopang konstruksi negara ini.
Kehancuran para guru merupakan awal kehancuran suatu negara. Potret seorang guru, seiring berjalannya waktu, sekarang sudah berganti. Dulu, guru digambarkan dengan seorang “Oemar Bakri” yang memakai sepeda butut dengan tas kulit yang lusuh, manifestasi sebuah kesederhanaan dan pengabdian tulus.
Sekarang potret buram itu telah berlalu. Guru sekarang banyak yang naik mobil berkelas dan memakai tas ber-merk. Tak ada lagi aura kesederhanaan dan pengabdian tulus. Dengan berkedok guru adalah sebuah profesi, yang artinya ada uang ada jasa, guru membentuk dirinya dengan sudut pandang materi.
Ayolah teman, (mohon maaf) kita tidak sama dengan segelintir dokter, yang hanya modal pegang dikit, udah habislah ratusan ribu uang pasiennya. Profesi hanya untuk menunjukkan sekaligus pengakuan eksistensi kemampuan dan kompetensi seorang guru dalam berkarya.
Tidak sedikit guru yang terjebak dalam dunia sosial media -- facebook, twitter, dll-- sehingga kadang lupa dengan profesinya. Ada yang bergaya seperti ababil (abege labil), pakai tanktop atau celana pendek, update status di sosial media selalu galau, seperti artis sinetron saja.
Aduh,... bagaimana reaksi anak didik dan keteladanan seperti inikah yang ditampilkan ke mereka. Belum lagi ada “pertemenan” yang nyeleneh di sosial media, yang menjadi pintu gerbang kehancuran rumah tangga atau tindakan asusila.
Itu bagi guru yang melek teknologi, bagi yang gaptek ke-alay-an mereka pun tidak kalah mengkhawatirkan. Pada tingkatan guru gaptek, biasanya ke-alay-an mereka tercermin dari fashion-nya.
Saling beradu berat gelang emas di tangan, bertanding merk tas dan kongkow-kongkow di mal. Parahnya para guru labil ini seringkali merasa bener sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa tutur kata, perilaku dan semua yang dipertontonkannya akan berpengaruh kepada anak didiknya.