Guru Alay, Murid Pun..?
Tersebutlah di sebuah negeri, sedang diadakan pemilihan guru terbaik di dunia. Peserta pertama datang dari benua Afrika,
Perbaikan penghasilan dari segi ekonomi yang diberikan pemerintah ternyata tidak linear dengan perbaikan kualitas dan daya saing. Malah makin banyak mencetak “OKB” (orang kaya baru) yang kebablasan.
Ada juga sepasang guru yang kedapatan berbuat mesum di hotel, guru yang menjadi pemakai narkoba, sampai-sampai ada guru yang jadi “bos” batu bara. Saking inginnya seorang guru berbisnis (karena di topang kemampuan ngutang di bank yang cukup), maka dia tidak ingat lagi tanggung jawabnya, kalaupun ingat untuk mengajar dia sudah tidak punya waktu lagi.
Waktu dan tenaga habis tercurah untuk berwirausaha. Tidak terlintas dalam benak mereka aku akan mengajar dengan metode dan strategi apa, apalagi terpikir untuk meningkatkan kompetensinya sebagai guru. Memang tidak ada aturan pemerintah ataupun aturan kehidupan yang melarang guru untuk kaya dan jadi “bos”, tetapi karena kita sudah memilih jalan hidup sebagai seorang guru, kita dibatasi oleh tanggung jawab dan kewajiban. Kasarnya, jangan gaji dan tunjangannya mau, pengabdiannya ogah.
Khittah Guru
Profesi guru sekarang sudah bukan kasta nomor dua. Guru sudah menjadi rising star dalam dunia kerja. Dulu kalau seorang mertua ditanya apa pekerjaan menantunya, maka akan di jawab, “guru haja”, tapi sekarang untuk pertanyaan yang sama akan dijawab, “alhamdulillah dapat menantu guru”.
Walaupun dari skala finansial mengalami peningkatan, status sosial pun relatif meningkat tetapi status moral para guru relatif mengalami penurunan. Karena guru terbuai oleh alunan lagu materi (sertifikasi) yang menghanyutkan. Walaupun kita sudah terlena cukup jauh dalam “kesesatan” ini tetapi tidak ada kata terlambat untuk berubah haluan.
Para guru harus kembali ke khittah-nya yaitu ing ngarso sun tulodo (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), ing madyo mangun karso (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan).
Pendidikan pada akhirnya adalah pembangunan karakter. Pembangunan karakter terwujud melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran ini terjadi tidak hanya sekedar pada tahap transfer pengetahuan semata, melainkan juga pada tahap transfer keterampilan hingga pada tahap transfer nilai-nilai yaitu nilai kehidupan dan nilai spiritual keagamaan.
Jadi, kalau guru alay, muridnya akan seperti apa? (*)
muhransyah@gmail.com