Ekonomi dan Bisnis

Begini Tanggapan Pengusaha Jika Pemerintah Tetapkan HET Ayam

Kenaikan harga ayam sudah terjadi sejak akhir Bulan Nopember 2017 lalu bertepatan dengan tibanya Bulan Maulid

Begini Tanggapan Pengusaha Jika Pemerintah Tetapkan HET Ayam
istimewa
Peternak ayam 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dengan kedaan seringnya harga ayam di Indoneisa berfluktuasi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia (RI) berencana akan mematok harga eceran tertinggi (HET) daging dan telur ayam di tingkat produsen maupun konsumen.

Tak heran, karena selama ini khususnya harga ayam masih sering berfluktuasi. Termasuk di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), harga ayam menyentuh harga Rp 37.000 perkilogram, Jumat (12/1/2018).

Kenaikan harga ayam sudah terjadi sejak akhir Bulan Nopember 2017 lalu bertepatan dengan tibanya Bulan Maulid Nabi di tahun 2017.

Harga Rp 37.000 perkilogram tentu sangat jauh diatas harga acuan ayam yang dikeluarkan oleh Permendag sebelumnya yaitu Rp 32.000 perkilogram di tingkat pedagang dan konsumen.

Baca: Ayam Ras di Pasar Tradisional Sentuh Harga Rp 37.000 Perkilo, Naik Sejak Maulid

Namun, menurut Wakil Sekjen IV Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Rudhi Budhi H, penetapan HET ayam belum menjamin masalah fluktuasi harga ayam selesai.

Dijelaskan Rudhi khususnya yang terjadi di Kalsel masalah di sektor industri perunggasan tidak hanya sebatas harga namun pada postur industri perunggasannya itu sendiri.

Tidak terpaku soal HET, menurutnya jika tentukan HET pemerintah juga harus memikirkan harga batas bawah.

Karena HET tentu akan baik bagi konsumen, namun harga batas bawah menjadi sangat penting bagi produsen dan pelaku industri di bidang perunggasan.

Baca: Tolak Tambang di HST, Orpala Garimbas Siap Ikut Menggugat, Tawaran Masdari Tasmin Disambut Antusias

Karena itu ia mengaku menyambut baik jika pemerintah benar akan terapkan HET ayam. Namun untuk menghindari fluktuasi harga yang terlalu tajam ia juga sarankan ditetapkan harga batas bawah untuk penjualan ayam khususnya di level kandang.

"Harga paling tinggi di 2017 pernah mencapai Rp 25.000 perkilogram di kandang dan terendah bahkan pernah Rp 9.000 perkilogram. Sedangkan harga pokok penjuakan di kisaran Rp 17.000 hingga di Rp 18.000 perkilogram, ini sangat tidak baik untuk semua pihak," kata Rudhi.

Fluktuasi tajam ini menurutnya terjadi karena selama ini bisnis perunggasan dipengaruhi lebih banyak dari faktor pelaku bisnis itu sendiri dan masih butuh campur tangan pemerintah untuk atasi masalah tersebut. (Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody)

Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help