Pemilu 2019

Pria HST Ini Tak Bisa Baca Tulis & Bingung Mau Coblos, Jarkasi: 75 % Warga Kiyu Buta Huruf

uba aksara masih menghantui warga Hulu Sungai Tengah. Pendidikan yang belum merata membuat sebagian warga pedalaman buta huruf atau buta aksara.

Pria HST Ini Tak Bisa Baca Tulis & Bingung Mau Coblos, Jarkasi: 75 % Warga Kiyu Buta Huruf
Banjarmasinpost.co.id/eka pertiwi
KPU Kalsel melakukan sosialisasi cara mencoblos untuk Pemilu 2019 di Desa Kiyu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Tuba aksara masih menghantui warga Hulu Sungai Tengah. Pendidikan yang belum merata membuat sebagian warga pedalaman buta huruf atau buta aksara.

Contohnya di Desa Kiyu. Di Desa ini hanya sebagian warga saja yang bisa baca tulis. Itu pun hanya kaum milenial. Sedangkan warga yang tua masih buta huruf hingga sekarang.

Warga Desa Kiyu, Jarkasi, mengatakan 75 persen warga Desa Kiyu buta aksara. Mereka tak bisa mengenali huruf dan angka.

Dibeberkannya, warga yang tidak buta huruf merupakan kelahiran baru. Sekitar tahun 80-an. Sedangkan tahun sebelumnya itu masih buta huruf.

Baca: VIDEO Logistik Pemilu ke Batang Alai Timur Didistribusikan, KPU Kalsel Libatkan Penduduk Asli

Baca: DPD PDIP Kalsel Fokus Garap Wilayah Banjarmasin dan Banua Anam, Ini Target yang Mau Dicapai

Baca: Sosialisasikan Tata Cara Mencoblos, Komisioner KPU Kalsel Daki Gunung Meratus Menuju Desa Juhu

"Ya karena akses pendidikan yang tidak ada pada zaman dahulu. Baru sekarang ada sekolah," bebernya.

Warga yang buta huruf adalah Dadat. Buta aksara membuatnya sulit untuk mengerti apa yang terjadi. Ia hanya paham apa yang disampaikan oleh orang-orang.

Sedangkan untuk membaca ia tak mampu. Jangankan membaca kata atau kalimat. Mengenali angka dan huruf ia juga kesulitan.

Termasuk pada pemilihan kali ini. Dadat mengaku kesulitan untuk mencoblos.

"Paling tahu warga. Angka kada tahu (angka tidak tahu, red). Apalagi membaca," katanya.

Untuk pemilihan legislatif tingkat kabupaten misalnya. Hanya bertengger nama dan nomor saja. Ia pun harus diajarkan oleh keluarganya untuk mencoblos yang mana.

"Saya tahu orang yang ingin saya coblos. Tapi tidak bisa baca namanya," keluhnya.

Ia berharap pemilihan akan datang bisa memudahkan warga yang buta huruf untuk mencoblos.

"Ya kalau tidak bisa. Paling tidak kami diajarkan," harapnya.

Komisioner KPU Provinsi Kalimantan Selatan Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat, Edy Ariansyah, mengatakan pentingnya sosialisasi tatap muka.

"Makanya daerah terpencil kami usahakan untuk tatap muka. Ini juga sosialisasi terakhir mendekati pemilu. Dengan begini pemilih masih ingat apa yang kami sosialisasikan karena jarak sosialisasi dengan pemilihan tidak begitu lama," jelasnya. (banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved