Tajuk

Ramadan dan Harga Bawang

Geliat perekonomian dan dunia usaha, menjelang Ramadan 1440 Hijriah, mengalami perubahan.

Ramadan dan Harga Bawang
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Maulana
Pedagang Bawang di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin, Budi, saat menunggu pembeli. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Geliat perekonomian dan dunia usaha, menjelang Ramadan 1440 Hijriah, mengalami perubahan. Faktanya, harga bahan pokok di pasar tradisional, mulai merangkak naik. Komoditas yang mengalami kenaikan harga, di antaranya bawang putih dan bawang merah.

Perihal kenaikan harga komoditas ini, disampaikan sejumlah pedagang kepada Menteri Perdagangan (Mendag) Republik Indonesia, Enggartiasto Lukita, ketika memantau harga sembako di Pasar Tradisional Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Sebagaimana ditulis BPost, Senin (15/4/2019) “Harga Bawang Merah Melambung: Mendag Perintahkan Importir Keluarkan Stok di Gudang”. Mendag sudah perintahkan kepada importir, keluarkan barang dalam gudang untuk memenuhi kebutuhan warga.

Baca: Skor Akhir Watford vs Arsenal, Gol Tunggal Aubameyang Antar The Gunners ke Posisi 4

Baca: Bertekad Kalahkan Barcelona, Solskjaer Siapkan Strategi Khusus Kalahkan Messi cs

Baca: Cara Nonton Game of Thrones Season 8 di HBO Bisa via Live Streaming, Cek Juga Jadwalnya

Dampak kenaikan harga bawang putih dan bawang merah, sejumlah pedagang yang menjual bumbu masak berbahan komoditas ini di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan Palangkaraya, Kalteng, mengaku merugi karena tidak berani menaikkan harga jual bumbu tersebut.

Seperti pengakuan Rifai, untuk membuat bumbu masak merah, kareh, bistik dan bumbu masak soto; banyak menggunakan bawang putih dan bawang merah. Sejak sepekan ini, harga bawang naik, sehingga para pembuat bumbu masak tersebut terkena dampaknya.

Kenaikan harga dalam sepekan ini, bawang putih awalnya Rp 40 ribu per kg menjadi Rp 45 ribu. Sedangkan harga bawang merah, awalnya Rp 25 ribu per kg saat ini Rp 38 ribu di pasar tradisional Palangkaraya, Kalteng.

Meski demikian, para pelaku dunia usaha melihat peluang dan momentum Ramadan 1440 H, sebagai bulan untuk menumbuhkan perekonomian mereka. Ada atau tidak hubungan antara kenaikan beberapa komoditi dengan Ramadan, secara tidak langsung terasa geliat demikian.

Kehadiran bulan suci umat Islam yang tinggal belasan hari lagi, sudah terasa nuansanya. Namun di tengah kondisi perekonomian yang belum menentu, membuat kita perlu menyikapi secara bijaksana, terutama membeli keperluan rumah tangga bukan berbelanja untuk keinginan semata.

Suasana menghargai dan menghormati, harus pula diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau semangat imsak (menahan) --roh ibadah puasa Ramadan-- bisa dimaknai dalam aspek kehidupan, niscaya terwuju keseimbangan dan terjaga kesuciaan Ramadan.

Terhadap puasa Ramadan, wajib ditunaikan umat beriman, kecuali yang mengalami udzur syar’i, seperti perempuan yang haid, nifas dan menyusui atau orang sakit tetap dan pekerja berat, diberikan keringanan untuk tidak mengerjakan puasa.

Baca: Sidang OTT Kasus Suap Proyek Dinas Koperasi, Wali Kota Pasuruan Dituntut 6 Tahun Penjara

Baca: Wakil Bupati Paluta Tapanuli Selatan Ditangkap, Diduga Terlibat Politik Uang Terkait Pencalegan

Kembali pada suasana seperti sekarang, beberapa komoditas keperluan rumah tangga mulai merangkak harganya naik, tentu tidak perlu berlebihan atau dipaksakan untuk memenuhi keperluan Ramadan. Maknai esensinya, Ramadan bulan latihan untuk mengendalikan hawa nafsu.

Melalui ibadah puasa, umat Islam yang beriman, wajib berjuang untuk mengendalikan hawa nafsu, agar moral tetap terpelihara dan menjadi landasan hidup, menangkal derasnya serbuan yang melanda kehidupan. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved