Mati Konyol atau Terhormat
Mati konyol dalam istilah agama bisa disamakan dengan mati dengan menzalim dirinya sendiri, sementara mati terhormat adalah mati thayyibin.
Oleh: Prof Kamrani Buseri
Mati konyol dalam istilah agama bisa disamakan dengan mati dengan menzalim dirinya sendiri, sementara mati terhormat adalah mati thayyibin.
Allah menegaskan dalam Alquran surah An-Nahl ayat 28 tentang mati dengan menzalim dirinya, sedangkan mengenai mati thayyibin (baik) pada surah yang sama ayat 32.
Selengkapnya mati konyol diutarakan ayat 28, “(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.
Berbuat zalim terhadap diri sendiri antara lain mati dengan bunuh diri, atau mati karena terbunuh dalam perkelahian, karena mereka yang bunuh diri adalah bersikap putus asa terhadap rahmat Tuhan, sementara yang terbunuh juga disebut mati konyol karena baik yang membunuh atau yang terbunuh sama-sama masuk neraka.
Adapun mati terhormat ditegaskan ayat 32 “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.
Mati terhormat maksudnya wafat dalam keadaan suci dari kekafiran dan kemaksiatan atau dapat juga berarti mati dalam keadaan senang karena ada berita gembira dari Malaikat bahwa mereka akan masuk surga. Bagi orang seperti ini para malaikat mengucapkan “selamat sejahtera bagimu”.
Tauran antarkelompok pelajar di Jakarta pada minggu-minggu kemarin mengingatkan kita betapa belum terhayatinya dua bentuk kematian yang dijelaskan Allah ini. Mereka dengan gampang menganggap hidup dan mati seperti biasa tidak berdampak apa-apa sesudahnya, sehingga kehidupan disia-siakan dan nyawapun melayang dengan tanpa harga.
Hanya disebabkan persoalan sepele, ketersinggungan, atau karena soal uang yang jumlahnya tidak seberapa, seseorang dengan mudah melakukan tindakan pembunuhan, mereka tidak menyadari bahwa membunuh seseorang tanpa alasan syari’i adalah dosa besar.
Sesunguhnya kehidupan dan kematian dua sisi yang berbeda tetapi sinambung. Kehidupan di dunia tempat menanam, sementara kehidupan di akhirat adalah tempat menuai. Kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan kehidupan di akhirat kekal. Kehidupan di dunia tempat berbuat kebajikan dan amal saleh, sementara kehidupan akhirat tempat menerima balasan.
Kehidupan di dunia tempat perjuangan, sementara kehidupan di akhirat tempat memetik hasil. Kehidupan di dunia bisa memilih, sebaliknya kehidupan di akhirat serba otomatis, tidak bisa memilih atau mengelak, sesuai dengan perilakunya selama di dunia.
Memperhatikan dimensi kehidupan dan kematian seperti itu, mestinya kita menghayatinya secara seksama, agar tidak akan menyesal di belakang hari dengan penyesalan tak berhingga, karena kehidupan di akhirat kita terpasung hukum akhirat yakni manusia tidak bisa memilih lagi seperti layaknya kehidupan di dunia.
Allah memberikan dua jalan yakni jalan kebenaran dan jalan kesesatan, tinggal manusia dipersilahkan memilihnya. Manusia diberikan akal sebagai bekal untuk memilih diantara dua jalan tersebut.
Allah menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi untuk menguji manusia, apakah mampu menjalankan amanah kekhalifahannya yang antara lain memakmurkan bumi, menebarkan kemanfaatan terhadap penghuni bumi, menyebarkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Derajat manusia ditentukan amalnya, baik derajat selama hidup di dunia lebih lebih lagi derajat kehidupan di akhirat kelak.
Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk menguji apakah mampu mengendalikan dirinya terhadap nafsu-nafsu serakahnya. Allah juga menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia siapa di antara mereka yang terbaik amalnya sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surah Al-Mulk ayat 1-2, “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Penghayatan kepada kehidupan sekaligus penghayatan kepada kematian diperkuat dengan keyakinan terhadap alam akhirat, akan melahirkan manusia mencintai amalan-amalan akhirat dan berhati-hati dalam sepak terjang selama di dunia. Ini bagian dari sikap seorang muttaqin.
Sikap kehati-hatian terhadap gemerlapnya dunia karena dunia ini ibarat pangung sandiwara penuh hiasan, senda gurau dan permainan. Kehati-hatian terhadap kehidupan sebagai fitnah atau cobaan, juga berbagai bala atau ujian. Baik itu balaan hasana (ujian mngenakkan) atau balaan sayyiaa (ujian menyedihkan).