Candu Sinetron
MEI, 2008 silam, saya menginap di apartemen seorang kawan karib di Taipei, Taiwan. Dia memiliki seorang anak usia lima tahun. Isterinya adalah anak seorang bankir terkemuka.
Lalu, apa yang kita dapatkan dari menonton sinetron? Saya khawatir, tidak lebih dari sekadar hiburan. Cerita-cerita sinetron, umumnya tidak memberikan pendalaman makna hidup dan pencerahan jiwa.
Yang ada hanyalah cerita tentang intrik-intrik cinta segitiga, kecengengan para tokohnya, perebutan harta warisan, khayalan-khayalan mistik yang tidak masuk akal, dan tindak kekerasan.
Sinetron juga suka menyajikan mimpi-mimpi indah. Para pemainnya biasanya amat cantik dan ganteng, dengan pakaian, kendaraan dan rumah yang mewah. Bukankah semua ini berbanding terbalik dengan kenyataan hidup kebanyakan rakyat Indonesia?
Tetapi, justru itulah yang membuat penonton hanyut terbuai. Semakin menderita hidup kita, semakin indah mimpi itu terasa. Inilah yang namanya candu.
Benar, bahwa manusia memerlukan hiburan. Tetapi hiburan bukanlah tujuan pada dirinya. Ia hanyalah jeda, selingan dan rehat dari kelelahan. Ketika hiburan menjadi candu, ia sudah berubah menjadi tujuan. Ia bukannya mengisi kembali energi kehidupan, tetapi malah menguras energi itu sampai habis. (*)