Bendera, BBM dan Descartes

DES Alwi bercerita, ketika dibuang Belanda ke Banda Neira, Maluku (1935-1942), Bung Hatta dan Bung Sjahrir suka naik perahu, menikmati keindahan Laut Banda.

Tayang:
Editor: Dheny Irwan Saputra

Rata-rata, giliran pengisian baru tiba setelah satu jam menunggu. Akibatnya, jalan di sekitar SPBU macet. Padahal, proyek jalan layang sudah membuat macet dam sengsara. Kita pun terkena macet kuadrat!

Bulan Mei 2012 silam, di Banua pernah terjadi aksi rencana pemblokiran kapal tongkang batubara, sebagai ancaman, agar pemerintah pusat mau memberikan perimbangan pendapatan hasil bumi yang wajar. Bahkan, muncul tuntutan ingin merdeka. Sekarang tuntutan serupa tak lagi nyaring terdengar, meski gubernur se-Kalimantan kabarnya terus menuntut tambahan kouta BBM.

Tetapi, seperti kasus Aceh, kini saya mulai ragu jika yang salah hanyalah pemerintah pusat. Apakah antrean panjang di SPBU akibat kelangkaan BBM, ataukah karena ulah para penjual eceran, yang siap bolak-balik tak mengenal waktu? Bagaimana pula sikap tegas aparat hukum? Bukankah kita memiliki intelijen yang hebat, dan dengan mudah menemukan para pengecer yang bolak-balik itu?

Seperti kata René Descartes, kita harus meragukan sesuatu untuk mencapai keyakinan. Keyakinan tanpa proses keraguan biasanya adalah keyakinan yang rapuh! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved