Ujian Akhir HBS dan UN
Selama tiga bulan penuh, ia terus belajar dan belajar, siang dan malam, menyiapkan diri menghadapi ujian akhir.
Di awal 1921, Soekarno makin sibuk belajar, menyiapkan diri menghadapi ujian akhir. Ujian dilaksanakan tiga tahap: April ujian tertulis, Mei ujian lisan, dan Juni ujian akhir. Yang diujikan tidaklah sedikit: 15 mata pelajaran!
Setelah semua dilewati, akhirnya diumumkan: dari 67 peserta ujian, hanya 52 orang yang lulus, dan salah satunya Soekarno. Ia adalah satu di antara empat siswa pribumi yang lulus.
Kalau dibandingkan, ujian HBS tampaknya jauh lebih sulit daripada Ujian Nasional (UN). Walaupun sulit, kita tidak mendengar cerita stres siswa dan orangtua yang berlebihan. Tak ada keterlambatan, apalagi kebocoran soal. Tak ada guru yang membantu para murid menjawabkan soal-soal. Tak ada polisi dan dosen yang turut menjadi pengawas. Tidak lulus 100 persen, adalah hal biasa dan lumrah.
Kini kita sudah hampir 68 tahun merdeka. Hari ini, seharusnya UN untuk SLTA se-Indonesia dilaksanakan serentak. Tetapi ternyata, sebelas provinsi harus menunda hingga Kamis depan, gara-gara distribusi soal yang terlambat. Alangkah memalukan!
Karena itu, jika pendidikan HBS era kolonial masih lebih bermutu daripada SLTA unggulan sekalipun di era merdeka, siapakah yang salah kalau bukan kita sendiri? (*)