Antara Setia dan Selingkuh
SETIA adalah kebalikan dari selingkuh. Tetapi suatu hari, saya menerima permintaan berteman di facebook dari
Karena, semakin banyak kebaikan yang kita raih, semakin besar pula kebahagiaan yang kita dapatkan. Sebaliknya, semakin banyak keburukan, semakin besar pula penderitaan yang kita rasakan.
Mengapa kebaikan adalah kebahagiaan, dan keburukan adalah penderitaan? Karena hakikat diri atau fitrah kita adalah baik, sehingga secara alamiah kita menyukai yang baik, benar dan indah.
Dalam film laga, biasanya ada tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis). Jika Anda bersemangat mendukung tokoh jahat ketika menonton film itu, saya kira Anda adalah orang yang tidak normal.
Namun, baik-buruk itu tidak selalu jelas dan mudah dibedakan. Apalagi jika yang dihadapi adalah gula-gula dunia berupa harta, tahta dan wanita/pria.
Manusia gampang tergoda, sehingga keburukan terlihat bagai kebaikan, dan dosa tampak bagai pahala. Karena itulah, orang bijak menasihati, jika kita ragu akan baik-buruknya sesuatu, lebih baik tinggalkan saja!
Dengan sikap tegas itu, maka kegamangan antara yang baik dan yang buruk dapat dihindari. Orang akan tetap setia pada kebaikan, bukannya selingkuh tiada akhir dengan keburukan. (*)