Jenius, Cantik, Baik
ORANG jenius itu sedikit. Yang idiot juga sedikit. Yang banyak itu, tidak jenius, tidak pula idiot.
Sekolah atau kuliah di lembaga itu menjelma sebagai simbol kekayaan. Pendidikan akhirnya menjadi ajang memamerkan, bahkan menciptakan kesenjangan.
Di sisi lain, muncul pula gairah menggebu untuk mengubah nasib melalui pendidikan. Ini suatu hasrat yang baik. Tetapi tidak jarang, pilihan atas lembaga pendidikan itu tidak lagi peduli dengan kemampuan, minat dan bakat, melainkan gengsi, atau peluang untuk menjadi PNS semata. Akibatnya, lahirlah guru yang tak berjiwa mendidik, dokter yang tak berjiwa melayani, insinyur yang tak teliti, dan seterusnya.
Sikap berlebihan di dunia pendidikan di atas, ternyata tampak sejalan dengan sikap banyak orang yang rela melakukan apa saja, agar tetap kelihatan muda, cantik dan ganteng, dari memakai rupa-rupa kosmetik, perawatan rutin di salon, olahraga, diet hingga operasi plastik, bahkan pergi ke dukun. Selain dirawat, tubuhnya juga diselimuti dan dihiasi pakaian indah dan mewah.
Padahal, setiap yang berlebihan itu buruk. Yang kita perlukan bukan menjadi manusia-manusia cantik dan ganteng seperti artis, tetapi menjadi manusia yang berbadan sehat.
Yang kita perlukan bukan melahirkan sebanyak mungkin jenius seperti Habibie, melainkan pendidikan yang adil dan merata untuk seluruh rakyat. Yang lebih kita perlukan lagi adalah, melahirkan manusia yang baik dan jujur.
Bukankah kebanyakan koruptor di negeri adalah orang-orang pintar, tetapi tidak jujur? Bukankah gaya hidup para artis yang cantik dan ganteng itu seringkali berbahaya jika dicontoh oleh anak-anak kita? (*)